<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BizLosophy.com - The Philosophy of Business</title>
	<atom:link href="http://www.bizlosophy.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bizlosophy.com</link>
	<description>The Philosophy of Business... In Essence...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 17:26:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Google vs. SITTI = David vs. Goliath?</title>
		<link>http://www.bizlosophy.com/2012/01/google-vs-sitti-david-vs-goliath/</link>
		<comments>http://www.bizlosophy.com/2012/01/google-vs-sitti-david-vs-goliath/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 17:26:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>William Henley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Funding]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Start Up]]></category>
		<category><![CDATA[Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[monetisation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bizlosophy.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki tahun 2012, dunia bisnis di Indonesia secara umum dan pelaku technology startup secara khusus mengamati satu inisiatif dari Google terkait dengan rencana investasinya di Indonesia. Dengan launching program Bisnis Lokal Go Online, Google melakukan gebrakan yang cukup kolosal karena program ini direncanakan untuk memberikan website gratis kepada 100.000 UKM.
Sebenarnya, program dengan ‘spirit’ untuk memberdayakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memasuki tahun 2012, dunia bisnis di Indonesia secara umum dan pelaku technology startup secara khusus mengamati satu inisiatif dari <a href="http://www.google.com">Google</a> terkait dengan rencana investasinya di Indonesia. Dengan launching program <a href="http://www.bisnisgoonline.co.id">Bisnis Lokal Go Online</a>, Google melakukan gebrakan yang cukup kolosal karena program ini direncanakan untuk memberikan <a href="http://tekno.kompas.com/read/2012/01/11/14415874/Google.Sediakan.100.000.Domain.Gratis.untuk.UKM">website gratis kepada 100.000 UKM</a>.</p>
<p>Sebenarnya, program dengan ‘spirit’ untuk memberdayakan UKM sudah pernah dijalankan oleh <a href="http://www.sitti.co.id">SITTI</a> dengan program ‘<a href="http://www.youtube.com/watch?v=Gojpo_SnNOw">Nurbaya Initiative</a>’ yang direncanakan sebagai ekosistim digital untuk UKM.</p>
<p>Adapun alasan saya membahas keterlibatan Google dengan program Bisnis Lokal Go Online dan SITTI dengan program Nurbaya Initiative adalah terkait dengan ekosistem start up industri di Indonesia dimana masih maraknya startup dengan konsep yang tidak jelas, sumber pendanaan yang terbatas dan strategi monetisasi (strategi cari duit) yang terlalu ambisius dengan asumsi yang sangat diragukan.</p>
<p>SITTI adalah salah satu startup teknologi Indonesia yang paling high-profile, terutama karena adanya kesan bahwa SITTI diposisikan sebagai alternatif yang lebih baik terhadap Google terkait konsep <em>contextual search &#038; advertising</em> di Indonesia.</p>
<p>Terlepas dari keberhasilan strategi dan positioning yang diusung oleh SITTI, satu hal yang bisa dipastikan adalah adanya perbedaan yang amat sangat mencolok dari kinerja SITTI sebagai sebuah perusahaan, terutama jika dilihat dari omzet &#038; profitabilitasnya dibandingkan dengan Google yang diposisikan sebagai kompetitor terkait dengan konsep contextual advertising di atas. Saya rasa walaupun kita tidak memiliki informasi mengenai income SITTI, tidak ada satu orangpun yang berani membantah bahwa SITTI belum memiliki kinerja finansial yang setara, atau bahkan mendekati Google yang memiliki nilai penjualan sebesar US$40 miliar per tahun.</p>
<p>Kondisi finansial inilah yang akan selalu menghantui teknologi startup di Indonesia selagi <a href="Start Up Indonesia – Begini Caranya Supaya Funding Ecosystem Bisa Bergairah">ekosistem finansial masih belum efisien dan bergairah</a>. Kondisi finansial ini jugalah yang akan menjadi faktor utama dibalik keberhasilan sebuah startup untuk bertahan &#038; survive di tengah <a href="http://www.bizlosophy.com/2012/01/evolusi-business-model-otopedia-com/">kesulitan untuk monetisasi</a> produk dan jasa startup-startup tersebut.</p>
<p>Kondisi finansial ini jugalah yang akan kembali saya pergunakan untuk mengingatkan para pelaku startup Indonesia bahwa produk dan layanan mereka harus dibarengi dengan kondisi finansial yang mapan supaya kelangsungan hidup mereka dapat terjamin.</p>
<p>Kembali ke topik inisiatif untuk membantu UKM, SITTI dan Google dengan cara masing-masing berupaya untuk memfasilitasi sebuah ekosistem digital untuk UKM. Saya rasa, dalam hal ini, SITTI dan Google memiliki aspirasi yang sama yaitu supaya dapat menguasai captive-market untuk bisnis contextual advertising dimana mereka bersaing dengan ketat.</p>
<p>Persaingan antara SITTI dengan Google ini adalah sebuah persaingan yang sangat tidak ’fair’. Saya rasa kita semua sudah mulai bisa mengerti bahwa kesulitan terbesar terkait bisnis teknologi di Indonesia adalah kesulitan untuk meng-edukasi pasar dan kesulitan untuk mensosialisasikan sebuah produk &#038; layanan sehingga bisa diterima oleh pasar.</p>
<p>Terkait dengan program edukasi pasar inilah kemampuan finansial sebuah startup akan diuji. Baik SITTI dan Google menhadapi masalah yang sama yakni dibutuhkan sumberdaya yang luar biasa besar sehingga inisiatif mereka bisa mencapai apa yang diharapkan dari awal. Waktu dan dana yang dibutuhkan untuk merealisasikan Nurbaya Initiative dan Bisnis Lokal Go Online amatlah sangat besar dan sama sekali tidak bisa dianggap remeh.</p>
<p>Persaingan SITTI dan Google dalam membentuk ekosistem digital UKM di Indonesia seharusnya bisa menjadi case-study yang sangat relevan untuk membuktikan bahwa proses implementasi sebuah business-plan membutuhkan sumberdaya yang luar biasa besar. Hal ini semakin penting dicermati di Indonesia karena perlunya proses edukasi dan sosialisasi yang intensif dan berkelanjutan, sehingga aspek permodalan &#038; monetisasi tidak bisa diabaikan dalam proses pembentukan sebuah startup ataupun sebuah bisnis lain secara umum.</p>
<p>Keberhasilan Nurbaya Initiative dan Bisnis Lokal Go Online akan sangat ditentukan oleh tersedianya sumberdaya pendanaan yang dialokasikan oleh SITTI dan Google untuk menjalankannya.</p>
<p>Memang program Bisnis Lokal Go Online baru saja di-launching minggu lalu, sehingga mungkin terlalu cepat untuk mem-vonis inisiatif siapa yang akan lebih sukses.</p>
<p>Akan tetapi jika kita kaitkan lagi dengan dibutuhkannya sumberdaya pendanaan untuk menunjang kesuksesan sebuah program, rasanya sudah ada gambaran cukup jelas inisiatif siapa yang akan lebih sukses pada saat eksekusinya.</p>
<p>Berhubung karena Nurbaya Initiative dan Bisnis Lokal Go Online sama-sama berupaya memajukan UKM Indonesia, memang idealnya adalah SITTI dan Google bisa sama-sama sukses. Tapi, rasanya kita sama-sama tahu bahwa hidup itu sering kali tidak ideal, bukan?</p>
<p>Ditulis oleh:</p>
<p><a href="http://www.linkedin.com/in/williamhenley">William Henley</a></p>
<p><a href="http://www.linkedin.com/in/williamhenley">My LinkedIn Profile</a></p>
<p>My Twitter: <a href="http://www.twitter.com/williambotak">@WilliamBotak</a></p>
<p>Silahkan subscribe ke <a href="http://www.bizlosophy.com/feed/">RSS Feeds</a> supaya Anda di-informasikan mengenai makalah-makalah saya yang berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bizlosophy.com/2012/01/google-vs-sitti-david-vs-goliath/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Evolusi Business Model Otopedia.com</title>
		<link>http://www.bizlosophy.com/2012/01/evolusi-business-model-otopedia-com/</link>
		<comments>http://www.bizlosophy.com/2012/01/evolusi-business-model-otopedia-com/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 15:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>William Henley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Others]]></category>
		<category><![CDATA[Start Up]]></category>
		<category><![CDATA[Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[business model]]></category>
		<category><![CDATA[monetisation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bizlosophy.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa artikel yang telah saya publikasikan melalui blog ini, saya selalu mengatakan bahwa proses monetization sebuah StartUp di Indonesia sangatlah sulit dilakukan, baik melalui business model eCommerce, subscription maupun jualan iklan.
Kesulitan untuk merealisasikan business model eCommerce sudah saya bahas melalui artikel saya dengan judul “eCommerce Indonesia: Bayarnya Pakai Apa, Boss??”
Saya tidak melihat banyak kasus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam beberapa artikel yang telah saya publikasikan melalui blog ini, saya selalu mengatakan bahwa proses monetization sebuah StartUp di Indonesia sangatlah sulit dilakukan, baik melalui business model eCommerce, subscription maupun jualan iklan.</p>
<p>Kesulitan untuk merealisasikan business model eCommerce sudah saya bahas melalui artikel saya dengan judul “<a href="http://www.bizlosophy.com/2011/10/ecommerce-indonesia-bayarnya-pakai-apa-boss/">eCommerce Indonesia: Bayarnya Pakai Apa, Boss??</a>”</p>
<p>Saya tidak melihat banyak kasus dimana monetisasi melalui subscription telah berjalan dengan baik dan menguntungkan. Beberapa StartUp yang sepengetahuan saya menerapkan subscription sebagai business model adalah beberapa penyedia aplikasi reader seperti <a href="http://www.wayangforce.com/">WayangForce</a> &amp; <a href="http://www.catchthescoop.com/">Scoop</a>. Selain dari itu, ada juga beberapa portal industri yang menerapkan biaya berlangganan (subscription) supaya dapat memperoleh akses ke materi-materi yang ada dalam portal tersebut.</p>
<p>Saya tidak berani meng-klaim bahwa saya mengerti 100% proses monetization yang diterapkan oleh WayangForce &amp; Scoop, oleh karena itu saya tidak akan membahasnya dalam tulisan saya kali ini.</p>
<p>Dalam kesempatan ini, saya ingin memaparkan betapa sulitnya untuk menerapkan jual iklan sebagai business model sebuah StartUp.</p>
<p>Saya yakin jual iklan merupakan business model yang paling sering dipertimbangkan sebagai metode monetisasi oleh banyak StartUp, mungkin karena sudah terbiasa mendengar cerita mengenai banyaknya situs-situs web yang mendapatkan income dengan cara menjual iklan.</p>
<p>Portal otomotif milik saya, <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a> awalnya dibuat dengan strategi monetisasi melalui subscription (berlangganan) dan jual-iklan. Melalui tulisan ini, saya akan bercerita tentang evolusi proses monetisasi yang telah dilalui oleh <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a>.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-143" href="http://www.bizlosophy.com/2012/01/evolusi-business-model-otopedia-com/otopedia277x435rss/" target="_blank"><img class="alignleft size-full wp-image-143" title="Otopedia" src="http://www.bizlosophy.com/wp-content/uploads/2012/01/Otopedia277x435rss.gif" alt="Otopedia" width="277" height="435" /></a></p>
<p>Filosofi <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a> didasarkan oleh keinginan untuk memberikan alternatif media promosi kepada pelaku bisnis jual-beli mobil, baik individual maupun showroom. Selama ini, media paling dominan dan paling efektif adalah dengan memasang iklan baris di beberapa surat-kabar harian dengan harga sekitar Rp.150.000,- per dua baris kolom per hari.</p>
<p>Melihat biaya pemasangan iklan baris yang tidak sedikit ini, saya berpendapat alangkah baiknya apabila saya dapat membangun sebuah platform iklan mobil via internet dengan menawarkan layanan berlangganan bulanan yang menurut saya akan jauh lebih murah dibandingkan dengan pasang iklan via iklan baris di surat kabar.</p>
<p>Versi awal <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a> ditawarkan kepada showroom mobil dengan biaya berlangganan Rp.500.000,- per bulan tanpa batasan banyaknya mobil yang boleh di-listing. Strategi ini tidak berhasil karena sebagian besar pemilik showroom yang kita tawarkan tidak melihat ’value’ yang ditawarkan oleh <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a>.</p>
<p>Mungkin pemikiran pemilik showroom adalah ”Buat apa juga saya bayar Rp.500.000,- per bulan, kalau hasilnya tidak ada. Lebih baik saya bayar Rp.150.000,- per mobil per hari tapi mobil saya punya kemungkinan lebih tinggi untuk terjual.” Selain itu, mungkin para pemilik showroom berpikir tentang biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli perangkat komputer dan juga akses internet yang dibutuhkan untuk melakukan upload iklan ke <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a>.</p>
<p>Melihat kondisi di atas, saya melakukan penyesuaian dengan menurunkan harga berlangganan menjadi Rp.250.000,- per bulan. Tetap saja tidak banyak animo dari para pemilik showroom.</p>
<p>Akhirnya sesudah beberapa lama tidak melihat perkembangan yang positif, saya memutuskan untuk melakukan survey lapangan sekali lagi ke para pemilk showroom tersebut. Pada saat itu juga saya memutuskan untuk menghapuskan biaya berlangganan menjadi ”0” (nol rupiah) tanpa mengurangi fitur. Tapi pada saat ini juga saya mendapatkan respons yang cukup mengagetkan dari para pemilik showroom. Hampir semua pemilik showroom mengatakan bahwa mereka tidak keberatan apabila <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a> mau datang mengambil foto mobil-mobil yang di showroom mereka dan upload dilakukan oleh staff <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a>. Akan tetapi mereka tidak akan mengalokasikan waktu dan sumber daya manusia untuk kegiatan tersebut, walau biayanya GRATIS.</p>
<p>Tentu saja saya terhenyak dengan kondisi di lapangan yang demikian challenging.</p>
<p>Kondisi lapangan di atas praktis berarti bahwa apabila saya menginginkan content yang fresh &amp; ter-update di <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a>, maka saya harus memiliki pasukan yang luar biasa besar untuk mendatangi showroom-showroom yang ada di seluruh Indonesia dan mengelola listing dari showroom tanpa dibayar sama sekali.</p>
<p>Berhubung karena untuk segment otomotif diperkirakan akan sulit untuk mendapatkan biaya berlangganan dari pengiklan maupun dari user, maka <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a> harus bisa monetisasi sebagai penjual iklan, yang mana hanya bisa dilakukan apabila traffic dan content sudah tinggi dan memiliki nilai jual kepada calon advertiser.</p>
<p>Saat tulisan ini dibuat, <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a> memiliki traffic sekitar 2500 unique visitors per hari, yang mana dari sudut pandang calon pengiklan masih belum memiliki value yang cukup untuk pemasangan iklan.</p>
<p>Bisa saja <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a> memutuskan untuk melakukan investasi untuk meningkatkan traffic &amp; unique visitors hingga mencapai tahap yang menarik pemasang iklan. Pertanyaannya adalah apakah biaya yang muncul dalam proses meningkatkan traffic tersebut sebanding dengan revenue yang muncul dari pengiklan? Buat saya sebagai pemilik <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a>, rasanya biaya marketing yang harus dikeluarkan masih belum sebanding dengan revenue yang bisa diraih dari penjualan iklan.</p>
<p>Akhirnya, saya memutuskan untuk merubah konsep <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a> menjadi portal otomotif yang user-generated-content dan mengandalkan word-of-mouth marketing dan Search Engine Optimisation untuk generate traffic. Setidak-tidaknya dengan cara begini, <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a> bisa sustain sebagai sebuah layanan yang bermanfaat dan berkembang secara organik tanpa membutuhkan biaya operasional yang tinggi.</p>
<p>Tulisan saya ini bermaksud menunjukkan bahwa strategi monetisasi bukanlah sesuatu yang mudah dan bisa dianggap remeh. Strategi monetisasi juga selalu terkait dengan biaya marketing yang sering kali tidak sebanding dengan potensi revenue yang bisa diperoleh. Hal inilah yang benar-benar harus dipahami dan dicermati oleh teman-teman kita pelaku StartUp.</p>
<p>Jika ada teman-teman yang merasa mampu untuk membantu saya untuk meningkatkan traffic ke <a href="http://www.otopedia.com">Otopedia.com</a> hingga mencapai tahap yang memiliki nilai jual yang tinggi kepada advertiser tetapi tanpa menguras kantong, silahkan segera menghubungi saya untuk bekerjasama.</p>
<p>Jika program marketingnya sukses dan sustainable, mungkin bisa juga di-implementasikan ke startup-startup lainnya sebelum mereka pada berguguran karena gagal memperoleh revenue yang sustainable, ataupun sebelum mendapatkan dana investasi dari Venture Capital.</p>
<p>Ditulis oleh:</p>
<p><strong>William Henley</strong></p>
<p><a href="http://www.linkedin.com/in/WilliamHenley">My LinkedIn Profile</a></p>
<p>My Twitter: <a href="http://www.twitter.com/WilliamBotak">@WilliamBotak</a></p>
<p>Silahkan subscribe ke <a href="http://www.BizLosophy.com/feeds">RSS Feeds</a> supaya Anda di-informasikan mengenai makalah-makalah saya yang berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bizlosophy.com/2012/01/evolusi-business-model-otopedia-com/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Start Up Mimpi&#8230; Better Wake Up Soon&#8230;</title>
		<link>http://www.bizlosophy.com/2011/12/start-up-mimpi-better-wake-up-soon/</link>
		<comments>http://www.bizlosophy.com/2011/12/start-up-mimpi-better-wake-up-soon/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 07:12:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>William Henley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Funding]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Start Up]]></category>
		<category><![CDATA[Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bizlosophy.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Hari Kamis 8 Desember 2011 yang lalu, saya hadir di StartUpLokal MeetUp v.20 di @america yang mengusung tema Outlook 2012. Seperti biasa, acara dipadati pengunjung dari kalangan aktivis teknologi startups, mungkin karena tema-nya yang menarik, mungkin juga karena pembicaranya adalah Rama Mamuaya (CEO DailySocial.net) dan Danny Wirianto (boss MerahPutih Inc.), atau bisa saja karena ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Kamis 8 Desember 2011 yang lalu, saya hadir di <a href="http://www.livestream.com/at_america/video?clipId=pla_a8a82898-602e-4179-a8b8-22aabde3f3a5&amp;utm_source=lslibrary&amp;utm_medium=ui-thumb" target="_blank">StartUpLokal MeetUp v.20</a> di @america yang mengusung tema Outlook 2012. Seperti biasa, acara dipadati pengunjung dari kalangan aktivis teknologi startups, mungkin karena tema-nya yang menarik, mungkin juga karena pembicaranya adalah <a href="http://twitter.com/#!/rampok" target="_blank">Rama Mamuaya</a> (CEO DailySocial.net) dan <a href="http://twitter.com/#!/dWirianto" target="_blank">Danny Wirianto</a> (boss <a href="http://merahputih.co.id/" target="_blank">MerahPutih Inc.</a>), atau bisa saja karena ada lucky draw berupa Kindle yang disediakan oleh sponsor dari Amazon Web Service.</p>
<p>Terus terang saja, ada beberapa point dari presentasi Rama &amp; Danny yang membuat saya agak sedikit terusik. Setelah melihat catatan saya tentang presentasi mereka, akhirnya saya temukan penyebabnya:</p>
<p><strong>Copycats Will Die</strong></p>
<p>Rama &amp; Danny mengatakan bahwa ”<strong>copycats will die</strong>”, dan hal ini kelihatannya disampaikan secara generik dengan alasan yang menurut saya terlalu di-sederhana-kan, <strong>oversimplified</strong> &#8211; yaitu: tidak adanya inovasi.</p>
<p>Saya rasa, bukan rahasia lagi bahwa saya adalah salah satu pengamat &amp; pelaku industri teknologi startup yang paling skeptis di Indonesia. Salah satu penyebab rasa skeptis saya juga terkait dengan kecenderungan copycat yang mewabah. Tapi, jika dipelajari lebih lanjut, saya rasa penyebab “kematian” startup copycat bukan semata-mata karena mereka copycat, akan tetapi karena melakukan copycat terhadap konsep-konsep yang tidak tepat guna &amp; tepat sasaran untuk implementasi di Indonesia.<br />
<strong><br />
Don&#8217;t Talk About Money. Think About Greater Good.</strong></p>
<p><strong> </strong>Dalam salah satu slide presentasi-nya, Danny mengatakan supaya sebuah startup bisa sukses, “<strong>Don’t talk about money. Think about greater good</strong>”.</p>
<p>Helllooooo&#8230;..!?!?!?!?</p>
<p>Kalau sebuah startup tidak bicara soal duit, bagaimana bisa “sustain”?</p>
<p>Selain dihadapkan dengan kondisi ekosistem finansial yang belum efektif &amp; efisien, startup di Indonesia juga dihadapkan dengan strategi monetisasi yang sangat terbatas. Saya rasa, sampai sekarang kita belum banyak melihat adanya startup yang benar-benar bisa hidup dari monetization strategy yang sudah terbukti berhasil.</p>
<p>Mungkin <a href="http://www.detik.com" target="_blank">Detik.com</a> merupakan sebuah kisah sukses paling kolosal dari sebuah startup di Indonesia karena berhasil berkembang dan sustainable sebagai sebuah portal berita yang dimulai dari kecil dan akhirnya berhasil memperoleh income dari penjualan iklan yang menurut kabar burung yang beredar, nilainya mencapai miliaran rupiah setiap bulannya.</p>
<p>Dalam segment portal berita, semua saingan Detik.com yang benar-benar eksis (<a href="http://www.vivanews.com" target="_blank">VIVAnews.com</a> &amp; <a href="http://www.kompas.com" target="_blank">Kompas.com</a>) didukung oleh modal yang besar, sehingga tidak pantas disebut sebagai startup dalam konteks yang kita bicarakan saat ini.</p>
<p>eCommerce sebagai business model, sampai saat ini masih belum bisa berkembang sesuai dengan yang diharapkan karena alasan-alasan yang telah saya ulas di-<a href="http://www.bizlosophy.com/2011/09/salah-kaprah-technology-startups-di-indonesia/" target="_blank">sini</a> &amp; di-<a href="http://www.bizlosophy.com/2011/10/ecommerce-indonesia-bayarnya-pakai-apa-boss/" target="_blank">sini</a>.</p>
<p>And Danny Wirianto still say “Don’t think about money”?!?!?!</p>
<p>Bro, sebagian besar dari startup di Indonesia tidak memiliki sumber daya keuangan seperti yang Anda nikmati di Merah Putih Inc. Jadi sudah sangat lumrah bahwa mereka akan mikirin duit terus. Dan teman-teman kita di startup Indonesia harus mikirin duit sampai jidat berkerut karena hampir seluruh potensi-potensi mengenai industri startup yang digembar-gemborkan di Indonesia saat ini masih berupa mimpi yang jalannya masih sangat panjang untuk bisa direalisasikan.</p>
<p><strong>Point-point di bawah ini selalu membuat teman-teman kita terbuai mimpi startup:</strong><br />
1. 40 juta pengguna internet di Indonesia, belum dihitung pengakses internet dari handphone,<br />
2. 40 pengguna Facebook dari Indonesia,<br />
3. 8 juta pengguna Twitter dari Indonesia,<br />
4. 30 juta pengguna Mig33 dari Indonesia,<br />
5. dan sebagainya</p>
<p><strong>Time to wake up!!!</strong></p>
<p>Facebook, Twitter adalah layanan Gratis. Seandainya untuk menggunakan Facebook &amp; Twitter harus bayar, saya yakin-seyakin-yakinnya bahwa pengguna Facebook di Indonesia tidak akan mencapai 40 juta orang, dan orang Indonesia tidak akan sering-sering bikin trending-topic di Twitter.</p>
<p>StartUp Raksasa dari Silicon Valley seperti Facebook &amp; Twitter didukung oleh modal ratusan juta dollar supaya bisa mereka bisa menawarkan layanan mereka secara gratis.</p>
<p>Di Indonesia, selain dari startup yang di-dukung oleh beberapa incubator dan bisnis group (konglomerat), selebihnya adalah startup yang tidak memiliki akses ke dukungan permodalan yang kuat sehingga harus mikirin duit mulai dari hari pertama.</p>
<p>Kalau Anda membangun sebuah startup saat ini di Indonesia dengan berharap bahwa dalam waktu 12 bulan bulan ke-depan akan bisa sustain dari eCommerce, dari layanan berbayar (subscription) atau bahkan dari jualan iklan, bersiap-siaplah supaya mimpi Anda bisa segera berubah menjadi mimpi-buruk.</p>
<p>Saya rasa sudah waktu-nya episode &#8220;<strong>overhype</strong>&#8221; yang dialami oleh StartUp di Indonesia kita carikan istilah baru.</p>
<p>Istilah apa yang paling cocok??</p>
<p>Start Up Mimpi sounds pretty good!!! (Note to self: Segera bikin hashtag <a href="http://twitter.com/#!/search?q=%23StartUpMimpi" target="_blank">#StartUpMimpi</a> di Twitter&#8230; Bukan di Mindtalk.com)</p>
<p>Friends, better wake up soon&#8230; Before it&#8217;s too late&#8230;</p>
<p>Ditulis oleh:</p>
<p><strong>William Henley</strong></p>
<p><a href="http://www.linkedin.com/profile/view?id=24976833" target="_blank">My LinkedIn Profile</a></p>
<p>My Twitter: <a href="http://twitter.com/WilliamBotak" target="_blank">@WilliamBotak</a></p>
<p>Silahkan subscribe ke <a href="../feed/" target="_blank">RSS Feeds</a> supaya Anda di-informasikan mengenai makalah-makalah saya yang berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bizlosophy.com/2011/12/start-up-mimpi-better-wake-up-soon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Start Up Indonesia – Begini Caranya Supaya Funding Ecosystem Bisa Bergairah</title>
		<link>http://www.bizlosophy.com/2011/11/start-up-indonesia-%e2%80%93-begini-caranya-supaya-funding-ecosystem-bisa-bergairah/</link>
		<comments>http://www.bizlosophy.com/2011/11/start-up-indonesia-%e2%80%93-begini-caranya-supaya-funding-ecosystem-bisa-bergairah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 03:25:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>William Henley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buzz]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Funding]]></category>
		<category><![CDATA[Start Up]]></category>
		<category><![CDATA[Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[akuisisi]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[IPO]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[transparansi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bizlosophy.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 24 November minggu lalu, saya diminta untuk membawakan makalah dengan tema “Ekosistem Finansial Ideal untuk Perkembangan Start Up Digital Kreatif di Indonesia” untuk didiskusikan dalam sebuah Focus Group Discussion yang diselenggarakan oleh Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (www.mikti.org).
Saya yakin, diskusi di-atas berusaha untuk mempelajari mengapa sampai saat ini, ekosistem pendanaan untuk industri start-up teknologi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 24 November minggu lalu, saya diminta untuk membawakan makalah dengan tema “Ekosistem Finansial Ideal untuk Perkembangan Start Up Digital Kreatif di Indonesia” untuk didiskusikan dalam sebuah Focus Group Discussion yang diselenggarakan oleh <a href="http://www.mikti.org/" target="_blank">Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (www.mikti.org)</a>.</p>
<p>Saya yakin, diskusi di-atas berusaha untuk mempelajari mengapa sampai saat ini, ekosistem pendanaan untuk industri start-up teknologi di Indonesia masih belum bisa bergairah seperti yang ada di Amerika Serikat (terutama dalam konteks technology start-up di Silicon Valley) dan apa yang bisa dilakukan supaya ekosistem pendanaan di Indonesia dapat bergairah.</p>
<p>Silahkan <a href="http://hotfile.com/dl/136185883/966f433/Ekosistem_Finansial_Untuk_Start_Up_Technology_di_Indonesia.pdf.html" target="_blank">download</a> makalah saya di <a href="http://hotfile.com/dl/136185883/966f433/Ekosistem_Finansial_Untuk_Start_Up_Technology_di_Indonesia.pdf.html" target="_blank">sini</a>.</p>
<p>Adapun point-point yang saya paparkan dalam makalah saya adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Di      Amerika Serikat, ekosistem pendanaan sudah terbentuk dengan rapih,      sehingga di setiap tahap perkembangan sebuah start-up, ada tipe-tipe      investor tertentu yang bisa di-pitching untuk melakukan investasi.</li>
<li>Banyak      jenis Venture Capital yang ber-operasi di Amerika Serikat, masing-masing      memiliki spesialisasi sendiri, baik spesialisasi sektoral (technology,      media, alternative energy, life sciences, retail dsb), sampai ke      spesialisasi tahapan / umur perusahaan (tahap awal, tahap berkembang,      tahap mezzanine sampai tahap exit).</li>
<li>Di      Amerika Serikat, sudah banyak sekali venture capital yang memiliki      spesialisasi untuk technology start-ups, dan sebagian besar dimotori oleh      investor-investor yang telah berhasil meraup kekayaan dari perusahaan-perusahaan teknologi      yang telah berhasil mencatatkan saham di bursa efek Amerika Serikat. Banyak dari venture capital yang      memiliki spesialisasi di teknologi ini memiliki kantor di daerah <a href="http://www.businessinsider.com/sand-hill-road-venture-capital-tour-2011-9?op=1" target="_blank">Silicon      Valley</a>.</li>
<li>Di Singapura, pemerintah melalui      beberapa institusi juga aktif memberikan hibah  (grant) kepada perusahaan start-up,      termasuk untuk technology start-ups.</li>
<li>Cina adalah negara dengan aktivitas      venture capital kedua terbesar di dunia sesudah Amerika Serikat. Venture      capital Amerika Serikat juga aktif melakukan investasi di technology      start-ups di Cina.</li>
<li>Venture Capital Amerika Serikat juga      aktif melakukan investasi di technology start-ups di India.</li>
<li>Beberapa perusahaan di Cina telah      berhasil mencatatkan saham di Bursa Efek Amerika Serikat (mis. Baidu,      Sina, Sohu, Youku, Renren).</li>
<li>Beberapa perusahaan di India juga      telah berhasil mencatatkan saham di Bursa Efek Amerika Serikat (mis.      Wipro, Satyam).</li>
<li>Sebagian perusahaan Cina juga      berhasil mencatatkan saham di Bursa Efek Hongkong (mis. Alibaba.com).</li>
<li>Saat ini, Indonesia memiliki 97      venture capital yang berada dibawah pengawasan Bapepam-LK. Sebagian besar      dari venture capital ini beroperasi dalam kancah Usaha Kecil      Menengah (UKM).</li>
<li>Format      venture capital di Indonesia      ini rasanya tidak akan cocok untuk melengkapi funding ecosystem technology      start-up di Indonesia.</li>
<li>Pasar      modal di Indonesia (Bursa Efek Indonesia)      juga bukan merupakan exit strategy yang ideal untuk technology start-ups      di Indonesia,      terutama karena ada pembatasan minimum Net Tangible Asset lebih dari      Rp.100 miliar untuk perusahaan yang mau mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia.</li>
</ol>
<p>Kalau begitu, apa yang harus dilakukan supaya ekosistem pendanaan untuk start-ups di Indonesia bisa lebih bergairah?</p>
<p>Menurut saya, hal paling penting yang perlu dilakukan untuk membuat ekosistem pendanaan menjadi bergairah adalah dengan cara meningkatkan transparansi di dalam industri technology start-ups itu sendiri.</p>
<p>Ekosistem pendanaan bisa dibuat bergairah apabila semakin banyak investor semakin berminat untuk menanamkan investasi di perusahaan technology start-ups.</p>
<p>Bagaimana membuat investor berminat untuk menanamkan investasi?</p>
<p>Caranya adalah dengan meningkatkan transparansi untuk setiap aktivitas investasi di industri technology start-ups di Indonesia.</p>
<p><strong>Yes, I know&#8230; It&#8217;s like chicken and egg</strong>&#8230; Tapi memang itulah kenyataannya jika dilihat dari kacamata seorang investor. Dan berhubung karena topik saat ini adalah &#8220;Financial / Funding Ecosystem&#8221;, sudah hakikatnya secara otomatis harus dilihat dari kacamata investor. Correct? Bukankah demikian?</p>
<p>Selama ini, kita tidak mengetahui nilai transaksi &amp; valuasi transaksi pada saat terjadi deal-deal di kalangan pelaku industri technology start-ups di Indonesia. Memang tidak ada kewajiban untuk memaparkan nilai transaksi &amp; valuasi transaksi. Akan tetapi tidak adanya transparansi itu jugalah yang membuat ekosistem pendanaan di Indonesia tidak bergairah.</p>
<p>Rumor yang berseliweran banyak sekali. Tetapi tidak ada berita resmi dari investor &amp; investee mengenai nilai transaksi maupun valuasi transaksi.</p>
<p>Menurut saya, cara terbaik supaya ekosistem pendanaan di Indonesia bisa bergairah adalah apabila pihak-pihak yang terkait secara transparan memaparkan nilai &amp; valuasi dari setiap deal/transaksi. Tujuannya supaya para investor dapat mengkaji deal tersebut dalam kaedah finansial yang benar.</p>
<p>Jika ternyata memang deal-deal yang terjadi benar-benar menciptakan value untuk para stakeholders, saya yakin investor akan berbondong-bondong untuk berpartisipasi dalam ekosistem pendanaan technology start-up di Indonesia.</p>
<p>Akan tetapi, apabilah sesudah diumumkan secara transparan ternyata terms dari deal-deal yang dieksekusi tersebut tidak “lucrative” &amp; “exciting”, ngapain juga kita heboh dan over-acting untuk sesuatu hal yang ternyata hanya biasa-biasa saja?</p>
<p>Jadinya salah kaprah lagi, bukan?</p>
<p>Ditulis oleh:</p>
<p><strong>William Henley</strong></p>
<p><a href="http://www.linkedin.com/profile/view?id=24976833" target="_blank">My LinkedIn Profile</a></p>
<p>My Twitter: <a href="http://twitter.com/WilliamBotak" target="_blank">@WilliamBotak</a></p>
<p>Silahkan subscribe ke <a href="http://www.bizlosophy.com/feed/" target="_blank">RSS Feeds</a> supaya Anda di-informasikan mengenai makalah-makalah saya yang berikutnya.</p>
<p>*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bizlosophy.com/2011/11/start-up-indonesia-%e2%80%93-begini-caranya-supaya-funding-ecosystem-bisa-bergairah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>eCommerce Indonesia: Bayarnya Pakai Apa, Boss??</title>
		<link>http://www.bizlosophy.com/2011/10/ecommerce-indonesia-bayarnya-pakai-apa-boss/</link>
		<comments>http://www.bizlosophy.com/2011/10/ecommerce-indonesia-bayarnya-pakai-apa-boss/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 12:57:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>William Henley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Funding]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Start Up]]></category>
		<category><![CDATA[Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[banking]]></category>
		<category><![CDATA[ecommerce]]></category>
		<category><![CDATA[gateway]]></category>
		<category><![CDATA[payment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bizlosophy.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Dalam “Salah Kaprah Technology StartUps di Indonesia” yang saya posting dua minggu yang lalu, saya sempat mengemukakan rasa penasaran terhadap tingginya minat tech-entrepreneur Indonesia untuk berkecimpung dalam segment eCommerce. Rasa penasaran saya tersebut pada dasarnya merupakan akibat pengamatan terhadap belum tersedianya Payment Gateway yang dapat memfasilitasi transaksi eCommerce di Indonesia secara seamless &#38; integrated.
Sebenarnya, sebelum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam “<a href="http://www.bizlosophy.com/2011/09/salah-kaprah-technology-startups-di-indonesia/" target="_blank">Salah Kaprah Technology StartUps di Indonesia</a>” yang saya posting dua minggu yang lalu, saya sempat mengemukakan rasa penasaran terhadap tingginya minat tech-entrepreneur Indonesia untuk berkecimpung dalam segment eCommerce. Rasa penasaran saya tersebut pada dasarnya merupakan akibat pengamatan terhadap belum tersedianya Payment Gateway yang dapat memfasilitasi transaksi eCommerce di Indonesia secara seamless &amp; integrated.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-101" href="http://www.bizlosophy.com/2011/10/ecommerce-indonesia-bayarnya-pakai-apa-boss/ecommerce-coins/"><img class="alignleft size-full wp-image-101" title="ecommerce-coins" src="http://www.bizlosophy.com/wp-content/uploads/2011/10/ecommerce-coins.jpg" alt="ecommerce-coins" width="185" height="135" /></a>Sebenarnya, sebelum sebelum saya memaparkan observasi dan opini saya terhadap topik di atas, saya rasa perlu meng-kualifikasi statement “belum tersedianya Payment Gateway System yang dapat memfasilitasi transaksi eCommerce di Indonesia secara seamless &amp; integrated” menjadi “belum tersedianya Payment Gateway System yang dapat memfasilitasi transaksi eCommerce di Indonesia secara seamless &amp; integrated <strong><em>serta sesuai dengan demografi &amp; struktur pasar di Indonesia</em></strong>”.</p>
<p><strong>Mengapa <em>demografi &amp; struktur pasar</em> begitu penting dalam konteks suksesnya eCommerce di Indonesia?</strong></p>
<p>eCommerce Payment Gateway bisa di<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Payment_gateway" target="_blank">definisi</a>kan sebagai sebuah infrastruktur yang berfungsi untuk memfasilitasi terjadinya proses pembayaran transaksi online melalui sebuah proses yang menyeluruh dan mencakup pihak-pihak yang terlibat yaitu Merchant (penjual), Buyer (pembeli), Bank dan juga pihak-pihak yang terkait dengan Bank (misalnya: Credit Card Provider).</p>
<p>Sebelum kita melanjutkan pembahasan, ada baiknya kita mengambil sebuah <strong>kesepakatan</strong> terlebih dahulu bahwa kita <strong>tidak akan membedakan</strong> istilah <strong><em>Payment Gateway</em></strong> &amp; <em><strong>Payment Processor</strong></em>. Payment Gateway seharusnya didiskusikan dalam konteks yang lebih technical karena melibatkan hal-hal yang bersifat teknologi &amp; protocol, sedang Payment Processor lebih menitik-beratkan terhadap aspek fungsionalitas dalam memfasilitasi transaksi eCommerce.</p>
<p><a href="http://www.paypal.com/" target="_blank">PayPal</a> merupakan sebuah contoh eCommerce Payment Processor yang paling sukses &amp; <em>ubiquitous</em> di dunia. Dalam praktek sehari-hari, PayPal menjalankan fungsi sebagai jembatan antara Kartu Kredit (milik pembeli) dengan Bank (di sisi Penjual) sehingga sebuah siklus transaksi eCommerce dapat berhasil dieksekusi dengan baik.</p>
<p>Selain dari PayPal, masih ada banyak layanan sejenis misalnya <a href="http://www.2checkout.com/" target="_blank">2checkout</a>, <a href="http://www.globalcollect.com/" target="_blank">GlobalCollect</a>, <a href="http://www.braintreepayments.com/" target="_blank">BrainTree</a> &amp; <a href="http://www.merchantplus.com/" target="_blank">MerchantPlus</a>. Masing-masing memiki fitur &amp; <em>value proposition</em> tersendiri.</p>
<p>PayPal bahkan sudah dapat memfasilitasi transaksi dalam mata-uang Rupiah. Jika diinginkan, sebuah perusahaan di Indonesia sebenarnya sudah dapat memfasilitasi terlaksananya sebuah transaksi jual-beli secara online apabila PayPal digunakan sebagai payment processor untuk pembayaran transaksi <strong><em>oleh pembeli yang menggunakan kartu-kredit.</em></strong></p>
<p>Hal di atas membuktikan bahwa <strong><em>kendala yang dihadapi oleh eCommerce di Indonesia bukanlah tidak tersedianya eCommerce Payment Gateway/Processor</em></strong>, karena fungsi ini sebenarnya dapat dijalankan oleh PayPal dan juga layanan sejenis lainnya apabila metode pembayarannya adalah dengan menggunakan kartu kredit.</p>
<p>Jika bukan karena tidak tersedianya eCommerce Payment Processor, lantas apa yang menjadi kendala?</p>
<p>Di sinilah kita perlu menyadari bahwa faktor <strong><em>demografi &amp; infrastruktur pasar</em></strong> merupakah aspek yang sangat penting dalam dalam konteks eCommerce di Indonesia.</p>
<p>Menurut saya, beberapa alasan mengapa PayPal dan layanan sejenis belum dapat memfasilitasi eCommerce di Indonesia secara efektif &amp; efisien adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Adanya kendala logistik di sisi keuangan, misalnya resiko valas (forex risk) yang muncul pada saat transaksi dilakukan di Indonesia dengan seluruh pihak yang terkait dalam memfasilitasi transaksi. Dalam hal ini, sebuah transaksi di Indonesia melibatkan pihak-pihak sebagai berikut: bank penerbit kartu kredit di Indonesia, provider kartu kredit di Indonesia, PayPal, bank-nya PayPal dan pihak-pihak lain yang keterlibatannya tidak sepenuhnya kita ketahui dan kita mengerti. Setiap lapis dari proses tersebut menimbulkan biaya, sehingga semakin banyaknya pihak yang terlibat, biaya yang ditimbulkan juga menjadi semakin tinggi dan berdampak langsung dan mengakibatkan penurunan efektivitas &amp; efisiensi.</li>
<li>PayPal sukses sebagai eCommerce Payment Processer karena fungsi yang dijalankan sebagai penengah (middle-man) antara <strong><em>Kartu Kredit</em></strong> milik Pembeli dengan perusahaan eCommerce. Fungsi inilah yang masih belum bisa dijalankan secara optimal, karena jumlah pemegang kartu kredit di Indonesia hanyalah 7 juta orang (sumber: Asosiasi Kartu Kredit Indonesia).</li>
</ol>
<p>Karena adanya kendala-kendala di-atas, saya rasa dapat disimpulkan bahwa eCommerce akan sulit berkembang di Indonesia apabila metode pembayaran yang diandalkan adalah kartu-kredit karena angka pengguna kartu kredit hanyalah sekitar 2,9% dari total penduduk Indonesia sebanyak 240 juta jiwa. Selain itu, biaya fasilitasi yang terlalu tinggi membuat Payment Processor asing seperti PayPal sulit di-implementasikan untuk eCommerce di Indonesia..</p>
<p>Berdasarkan pengamatan di-atas, saya membuat hipothesis bahwa <strong><em>eCommerce hanya bisa berkembang pesat apabila ada metode pembayaran dengan instrument yang sudah lebih banyak dipakai oleh penduduk Indonesia</em></strong>.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Demografi &amp; Infrastruktur Pasar eCommerce</span></strong></p>
<p>Pada tahap inilah, kita perlu memahami gambaran kasar tentang sistim perbankan Indonesia. Berdasarkan diskusi saya dengan beberapa pakar perbankan, saya mendapatkan informasi bahwa kurang dari 40% penduduk Indonesia yang telah memiliki akses terhadap sistim perbankan nasional. Jika kita menggunakan angka ini sebagai pegangan, berarti kita harus menggunakan asumsi bahwa eCommerce hanya bisa dinikmati oleh 92 juta dari 240 juta penduduk Indonesia yang memiliki akses kepada layanan perbankan yang paling basic, misalnya buku tabungan.</p>
<p>Sejauh ini, kita sudah melihat bahwa ada beberapa perusahaan Indonesia yang meng-klaim sebagai eCommerce Payment Gateway/Processor di Indonesia. Beberapa nama platform yang dirilis oleh tech-companies di Indonesia antara lain: <a href="http://www.indomog.com" target="_blank">IndoMOG</a>, <a href="http://www.inapay.com/" target="_blank">InaPay</a>, <a href="http://www.kaspay.com/" target="_blank">KasPay</a> &amp; <a href="http://doku.com/" target="_blank">Doku</a>.</p>
<p>Jika dilihat dari penjelasan di-website masing-masing, pengertian saya pribadi terhadap masing-masing layanan tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>IndoMOG adalah sebuah mekanisme pembayaran yang ditujukan untuk komunitas gamer guna memfasilitasi transaksi jual beli voucher game secara elektronik.</li>
<li>InaPay &amp; KasPay menjalankan fungsi sebagai mediator dimana penjual dan pembeli perlu memiliki rekening di InaPay &amp; KasPay dan mereka akan bertindak sebagai escrow/custody/wali-amanat sampai pada tahap sebuah siklus transaksi berhasil dilaksanakan (dalam arti barang yang dibeli sudah sampai ke tangan pembeli) supaya pembayaran atas transaksi dapat dilakukan (di-settle) ke penjual produk.</li>
<li>Doku adalah sebuah platform yang meng-klaim telah berhasil melakukan integrasi dengan bank yang ada di Indonesia. Website Doku memberikan contoh nama beberapa vendor yang telah menggunakan platform Doku, akan tetapi saya tidak berhasil mendapatkan informasi mengenai proses maupun flow-of-work dari platform tersebut.</li>
</ol>
<p>Berdasarkan pengamatan singkat atas layanan-layanan di atas yang diposisikan sebagai eCommerce Payment Gateway/Processor di Indonesia, saya masih melihat <strong><em>banyak sekali kelemahan</em></strong> dari layanan-layanan ditawarkan, terutama jika dikaitkan dengan misi untuk memfasilitasi eCommerce sehingga dapat mencapai momentum yang tinggi di Indonesia.</p>
<p>Menurut saya, masalah terbesar dari layanan yang tersedia adalah ketidak mampuan untuk meng-akses 40% populasi Indonesia yang sudah memiliki rekening bank yang paling basic demi memperbesar basis konsumen yang dapat melakukan transaksi eCommerce.</p>
<p>Terus-terang, saya tidak tau perusahaan-perusahaan mana lagi yang akan coba melakukan deployment eCommerce Payment Gateway, ataupun mekanisme yang nantinya akan dipergunakan.</p>
<p>Dari sisi sektor perbankan, sudah terlihat bahwa beberapa bank nasional sedang mencoba untuk menawarkan payment processing capabilities kepada nasabah masing-masing. Lagi-lagi yang menjadi masalah adalah ketidak mampuan dari bank-bank ini untuk menawarkan layanan processing ini kepada nasabah dari bank lain. Artinya, Bank ABC hanya bisa melayani nasabah Bank ABC, tetapi tidak bisa melayani nasabah Bank XYZ. Sebagai akibatnya, sebuah perusahaan eCommerce (anggap saja namanya IndoZone) yang memiliki rekening bank di Bank ABC hanya bisa melayani nasabah Bank ABC saja. Supaya dapat melayani nasabah Bank XYZ, IndoZone harus memiliki akses ke payment platform yang ada di Bank XYZ. Proses ini harus di-ulang untuk setiap bank apabila IndoZone ingin melayani nasabah-nasabah dari semua bank yang ada di Indonesia.</p>
<p>Saya rasa, eCommerce di Indonesia hanya bisa mencapai momentum yang tinggi apabila sudah ada layanana sejenis PayPal yang dapat <strong><em>menjembatani lalu-lintas dana dari seluruh rekening bank yang ada di Indonesia</em></strong>. Bukan hanya untuk rekening kartu-kredit, tetapi juga untuk rekening tabungan biasa.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah saat ini sudah ada perusahaan Indonesia yang berupaya untuk menawarkan layanan sejenis PayPal untuk seluruh rekening bank yang ada di Indonesia. Bisa saja ada bank nasional dengan cakupan yang luas sudah berusaha untuk memposisikan diri ke arah layanan tersebut. Bisa juga salah satu dari technology companies yang sudah saya ulas di-atas juga sedang mengarahkan ke sana.</p>
<p>Supaya eCommerce Payment Processing dapat mencakup seluruh rekening yang ada dalam system perbankan kita, maka dibutuhkan sebuah <strong><em>Clearing House</em></strong> supaya lalu-lintas dana tersebut dapat di-catat dan di-bukukan sebagaimana mestinya ke pihak-pihak terkait.</p>
<p><strong><em>Terkait dengan Clearing House inilah, saya berani mengambil kesimpulan bahwa seluruh perusahaan/platform yang berupaya untuk menjadi eCommerce Payment Gateway/Processor di Indonesia akan GAGAL dalam mencapai objektif masing-masing, kecuali sebuah Clearing House segera dibentuk.</em></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Sejarah Terulang Kembali</span></strong></p>
<p>Kesimpulan ini saya ambil dengan melihat sejarah industri perbankan pada saat teknologi ATM (Automated Teller Machine) mulai diimplementasikan di Indonesia. Bank Niaga adalah bank Indonesia yang pertama kali menawarkan layangan ATM di tahun 1987. Layanan ATM ini kemudian diikuti oleh hampir semua bank yang kemudian memiliki jarangn ATM masing-masing. Sekarang ini, kita bisa melihat bahwa lalu lintas dana di antara jaringan ATM bank-bank di Indonesia telah berhasil difasilitasi dengan lancar melalui jaringan <a href="http://www.artajasa.co.id/id/layanan/atm-bersama.html" target="_blank">ATM Bersama</a>.</p>
<p>Jaringan ATM Bersama adalah jaringan Clearing House lalu-lintas dana via ATM yang dimiliki oleh <a href="http://www.artajasa.co.id" target="_blank">PT. Artajasa Pembayaran Elektronis</a></p>
<p>Saya yakin, sejak pertama kali ATM diluncurkan di Indonesia, sampai pada saat jaringan ATM Bersama dibentuk, banyak sekali pengusaha / businessman / entrepreneur yang telah tertarik untuk membentuk Clearing House ATM karena potensi fee yang bisa diperoleh dalam proses memfasilitasi lalu-lintas dana ATM bank-bank tersebut. Akan tetapi, akhirnya PT. Artajasa Pembayaran Elektronis-lah yang berhasil memperoleh mandat untuk menyelenggarakan dan mengelola jaringan ATM Bersama.</p>
<p>Mengapa begitu? Jika dilihat dari <a href="http://www.artajasa.co.id/id/tentang-artajasa/pemegang-saham-.html" target="_blank">struktur perusahaan</a>, terlihat bahwa PT. Artajasa Pembayaran Elektronis dimiliki oleh: <strong>i.</strong> Aplikanusa Lintasarta (55%), <strong>ii.</strong> Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia (35%), <strong>iii.</strong> PT. Multivisi Komputama (10%).</p>
<p>Terkait dengan Clearing House untuk eCommerce Payment, saya juga yakin bahwa sejarah akan terulang kembali. Artinya, siapapun boleh berusaha untuk memobilisasi sebuah platform untuk memfasilitasi lalu lintas dana eCommerce. Akan tetapi berhubung karena layanan ini akan menjadi layanan yang amat sangat strategis, maka akhirnya layanan ini hanya akan terbentuk dengan Bank Indonesia ataupun institusi yang terafiliasi dengan Bank Indonesia (misalnya Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia) sebagai pemegang saham / stakeholder.</p>
<p>Terlepas dari alasan maupun feasibility dari investasi di bisnis eCommerce Payment Gateway di Indonesia, saya hanya ingin mengemukakan pandangan saya bahwa eCommerce tidak akan bisa mencapai momentum yang diharapkan tanpa adanya sebuah Clearing House / Payment Gateway yang menurut saya akhirnya hanya akan berwujud dan dibidani oleh Bank Indonesia ataupun institusi yang terafiliasi dengan Bank Indonesia.</p>
<p>Jadi, kalau pertanyaan saat ini berbunyi, “Transaksi eCommerce-nya mau dibayar pakai apa, Boss??”</p>
<p>Saya rasa jawaban paling tepat untuk saat ini adalah: “Maaf beribu maaf, terus terang masih bingung gimana nge-bayar-nya..!!”</p>
<p>Ditulis oleh:</p>
<p><strong>William Henley</strong></p>
<p><a href="http://www.linkedin.com/profile/view?id=24976833" target="_blank">My LinkedIn Profile</a></p>
<p>My Twitter: <a href="http://twitter.com/WilliamBotak" target="_blank">@WilliamBotak</a></p>
<p>Silahkan subscribe ke <a href="http://www.bizlosophy.com/feed/" target="_blank">RSS Feeds</a> supaya Anda di-informasikan mengenai makalah-makalah saya yang berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bizlosophy.com/2011/10/ecommerce-indonesia-bayarnya-pakai-apa-boss/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>116</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Quo Vadis Funding Ecosystem di Indonesia</title>
		<link>http://www.bizlosophy.com/2011/10/quo-vadis-funding-ecosystem-di-indonesia/</link>
		<comments>http://www.bizlosophy.com/2011/10/quo-vadis-funding-ecosystem-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2011 02:23:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>William Henley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Funding]]></category>
		<category><![CDATA[Start Up]]></category>
		<category><![CDATA[Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bizlosophy.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tulisan minggu lalu berjudul “Salah Kaprah Technology StartUps di Indonesia”, saya berargumentasi bahwa kondisi semarak (heboh) yang mewarnai industry StartUps di Indonesia akhir-akhir ini hendaknya disiasati secara faktual dan proporsional. Adapun alasan saya mengatakan hal tersebut disebabkan karena tidak adanya informasi yang memadai untuk mendukung persepsi bahwa proses Wealth Creation telah berjalan dengan baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam tulisan minggu lalu berjudul “<a href="http://www.bizlosophy.com/2011/09/salah-kaprah-technology-startups-di-indonesia/" target="_blank">Salah Kaprah Technology StartUps di Indonesia</a>”, saya berargumentasi bahwa kondisi semarak (heboh) yang mewarnai industry StartUps di Indonesia akhir-akhir ini hendaknya disiasati secara faktual dan proporsional. Adapun alasan saya mengatakan hal tersebut disebabkan karena tidak adanya informasi yang memadai untuk mendukung persepsi bahwa proses Wealth Creation telah berjalan dengan baik di dalam industry StartUps di Indonesia.</p>
<p>Kali ini, saya ingin memaparkan observasi dan kajian saya mengenai absen-nya proses Wealth Creation tersebut, terlebih-lebih dilihat dari segi financial, khususnya terkait dengan <em><strong>ekosistem pendanaan (funding ecosystem)</strong></em>.</p>
<p>Adapun yang dimaksud dengan funding ecosystem adalah sebuah ekosistem yang terdiri dari komponen-komponen yang memungkinkan proses funding supaya dapat berjalan dengan baik, efisien dan efektif.</p>
<p>Sebuah funding ecosystem dianggap baik apabila komponen-komponen seperti <strong><em>Source of Funds (sumber pendanaan), Valuation Matrix (matriks valuasi) &amp; Liquidity (likuiditas)</em></strong> telah terbentuk dan dapat berfungsi dengan baik.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-95" href="http://www.bizlosophy.com/2011/10/quo-vadis-funding-ecosystem-di-indonesia/siliconvalley/"><img class="alignleft size-full wp-image-95" title="siliconvalley" src="http://www.bizlosophy.com/wp-content/uploads/2011/10/siliconvalley.jpg" alt="siliconvalley" width="200" height="150" /></a>Dalam konteks industry teknologi &amp; start-up di <a href="http://www.businessinsider.com/sand-hill-road-venture-capital-tour-2011-9?op=1" target="_blank">Silicon Valley</a> yang selalu menjadi rujukan para pelaku industry di Indonesia, ketiga komponen tersebut telah terbentuk dalam kurun waktu yang lama, dan eksistensi dari komponen-komponen tersebut sudah berdampak positif terhadap terbentuknya sebuah funding ecosystem yang relatif cukup efektif &amp; efisien.</p>
<p><strong>Source of Funds</strong></p>
<p>Sumber pendanaan di Silicon Valley dapat diperoleh dari investor individu maupun investor institusi. Investor individu biasanya berasal dari kalangan Family &amp; Friends (F&amp;F). Sering juga terjadi dimana sekelompok investor individu membentuk sebuah paguyuban sehingga terjadi penggabungan dari sumber pendanaan individu tersebut untuk diinvestasikan dalam sebuah proyek.</p>
<p>Selain dari investor individu, ada juga beragam investor institusi yang siap untuk melakukan investasi dalam proyek-proyek start-up. Investor institusi bisa berupa Venture Capital, bahkan Private Equity.</p>
<p>Dalam kategori Venture Capital (VC), terdapat beragam VC dengan spesialisasi yang berbeda-beda. Spesialisasi tersebut bisa di sektor tertentu (mis. technology, biotechnology, alternative energy dsb.) ataupun di tahap tertentu (mis. tahap produksi, tahap ekspansi, tahap bridging, tahap pre-IPO) dari sebuah project / start-up.</p>
<p>Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai aktivitas VC-VC tersebut, seorang entrepreneur hanya perlu mampir ke website sebuah VC, yang biasanya sudah memaparkan informasi mengenai nama-nama partner, aktivitas sektoral dan portofolio investasi masing-masing VC.</p>
<p>Private Equity memiliki tendensi untuk melakukan investasi di perusahaan-perusahaan yang sudah established, seringkali melalui proses Merger &amp; Acquisition.</p>
<p>Dalam konteks technology start-ups, komponen Source of Funds dari funding ecosystem di Silicon Valley sudah terbentuk dengan relatif baik, sehingga sebuah start-up dengan ide, konsep &amp; business plan yang matang serta didukung oleh founder &amp; personil yang memiliki kondite yang baik memiliki kesempatan yang cukup tinggi untuk mendapatkan investasi dari VC-VC yang ada di Silicon Valley.</p>
<p>Sangat disayangkan Indonesia masih belum memiliki Source of Funds yang memadai untuk mendukung perkembangan technology start-ups. Yang terjadi seringkali adalah sebuah start-up dimodali oleh para pendirinya dan harus survive tanpa bantuan pendanaan dari pihak luar.</p>
<p>Walaupun Modal Ventura eksis di Indonesia, akan tetapi dari segi modus operandi dan portofolio investasinya sangat berbeda dengan Venture Capital yang ada di Silicon Valley. Dalam konteks technology start-ups, Modal Ventura di Indonesia merupakan institusi yang sangat berbeda dengan VC yang ada di Silicon Valley. In other words, it’s a totally different animal.</p>
<p>Baru akhir-akhir ini kita ada mendengar bahwa beberapa group bisnis di Indonesia sudah mulai membentuk Venture Capital melakukan investasi di technology start-ups.</p>
<p><strong><em>Valuation Matrix</em></strong></p>
<p>Dalam dunia investasi, sudah ada panduan-panduan untuk melakukan assessment (penilaian) terhadap sebuah produk investasi. Panduan-panduan ini dapat berupa faktor seperti laba bersih (net-profit), nilai buku (book value), enterprise value, dsb. Gabungan dari faktor-faktor penilaian inilah yang sering disebut dengan istilah Valuation Matrix.</p>
<p>Valuation Matrix di industri start-up merupakan sebuah topik yang rada-rada complicated. Hal ini disebabkan oleh kesulitan untuk melakukan valuasi terhadap sebuah konsep, produk, business model baru yang dipropose oleh seorang entrepreneur.</p>
<p>Walaupun Valuation Matrix merupakan sebuah topik yang lumayan pelik, para investor (dalam hal ini VC) dapat menyiasatinya dengan merujuk kepada informasi public yang telah tersedia di pasar modal, walaupun mungkin kadang-kadang perlu melakukan penyesuaian (tweaking) yang dirasakan perlu.</p>
<p>Informasi dan analisa inilah yang diramu oleh VC sebelum memutuskan untuk melakukan investasi di start-ups. Dibawah ini adalah contoh list dari Round-A funding yang diterima oleh beberapa technology start-ups yang sudah tidak asing lagi bagi kita.</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="455">
<tbody>
<tr>
<td width="132">
<p align="center"><strong>Tanggal</strong></p>
</td>
<td width="154">
<p align="center"><strong>Nama Start-Up</strong></p>
</td>
<td width="169">
<p align="center"><strong>Round A</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132">
<p align="center">June-99</p>
</td>
<td width="154">
<p align="center">Google</p>
</td>
<td width="169">
<p align="center">US$25 million</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132">
<p align="center">May-05</p>
</td>
<td width="154">
<p align="center">Facebook</p>
</td>
<td width="169">
<p align="center">US$12.7 million</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132">
<p align="center">July-07</p>
</td>
<td width="154">
<p align="center">Twitter</p>
</td>
<td width="169">
<p align="center">US$5 million</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132">
<p align="center">August-07</p>
</td>
<td width="154">
<p align="center">LivingSocial</p>
</td>
<td width="169">
<p align="center">US$5 million</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132">
<p align="center">October-08</p>
</td>
<td width="154">
<p align="center">Spotify</p>
</td>
<td width="169">
<p align="center">Euro 21.6 million</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132">
<p align="center">September-09</p>
</td>
<td width="154">
<p align="center">Evernote</p>
</td>
<td width="169">
<p align="center">US$6.5 million</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132">
<p align="center">March-10</p>
</td>
<td width="154">
<p align="center">Quora</p>
</td>
<td width="169">
<p align="center">US$11 million</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132">
<p align="center">June-10</p>
</td>
<td width="154">
<p align="center">Foursquare</p>
</td>
<td width="169">
<p align="center">US$20 million</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132">
<p align="center">August-10</p>
</td>
<td width="154">
<p align="center">Groupon</p>
</td>
<td width="169">
<p align="center">US$4.8 million</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132">
<p align="center">November-10</p>
</td>
<td width="154">
<p align="center">Airbnb</p>
</td>
<td width="169">
<p align="center">US$7.2 million</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="132">
<p align="center">February-11</p>
</td>
<td width="154">
<p align="center">Instagram</p>
</td>
<td width="169">
<p align="center">US$7 million</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Round A funding biasanya merupakan pendanaan dari investor pada saat prototype ataupun versi awal dari sebuah produk/service telah berhasil di-<em>deploy.</em></p>
<p>Dalam sejarah sebuah start-up di Silicon Valley, biasanya ada beberapa tahap funding sebelum akhirnya para investor dapat menemukan exit-strategy. Tahapan funding biasanya dilakukan sesuai dengan perkembangan start-up, mulai dari tahap produksi, ekspansi, bridging, pre-IPO sampai pada tahap IPO. Idealnya di setiap tahap pendanaan baru, valuasi dari sebuah start-up bisa meningkat.</p>
<p><strong>Liquidity</strong></p>
<p>Liquidity (likuiditas) boleh dikatakan merupakan faktor terpenting dari sebuah funding ecosystem.</p>
<p>Dengan adanya liquidity, barulah seorang VC berani melakukan investasi dalam sebuah ide, konsep &amp; business model yang baru saja dipropose oleh seorang entrepreneur.</p>
<p>Liquidity jugalah yang merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan adanya spesialisasi di kalangan VC sesuai dengan tahapan perkembangan sebuah start-up, sehingga VC yang investasi di Round A bisa confident bahwa akan ada VC berikut yang berminat melakukan investasi di Round B, dan berlanjut hingga ke tahap exit berupa akuisisi ataupun IPO. Otomotis, hal ini harus dibarengi dengan peningkatan kinerja dan meningkatnya value dari start-up tersebut.</p>
<p>Saya rasa, tidak ada satupun di-antara kita yang berani bermimpi bisa mendapatkan Round A funding sebesar US$25 juta seperti yang diperoleh Google. Berharap bisa dapat Rp.3 miliar sajapun sudah gak kebayang oleh sebagian besar dari kita.</p>
<p>Ketiga faktor di atas (<strong>Source of Funds, Valuation Matrix &amp; Liquidity</strong>) dalam <strong>Funding Ecosystem</strong> inilah yang sampai saat ini belum eksis di-Indonesia. Hanya dengan tersedianya faktor-faktor tersebut, proses Wealth Creation seperti yang telah terjadi di technology start-ups di Silicon Valley dapat berlangsung dan sustainable.</p>
<p>Hilangnya salah-satu komponen, bisa dengan serta merta membuat proses Wealth Creation tersebut menjadi terhambat, atau bahkan hilang sama sekali.</p>
<p>Contohnya: Liquidity dapat berkurang secara drastis apabila exit-strategy melalui IPO terhambat karena rontoknya pasar modal Amerika Serikat karena alasan (trigger) apapun. Jika hal ini terjadi, ada kemungkinan besar animo investasi para VC di technology start-ups bisa turun drastis.</p>
<p>Jika diibaratkan perkembangan ekosistim start-up itu memiliki tahapan <strong>Merangkak, Berjalan &amp; Berlari</strong>, maka boleh dikatakan bahwa ekosistem start-up di Silicon Valley sudah sampai pada tahap Berlari (actually, lebih tepat dikatakan sudah di tahap naik <strong>Private Jet</strong>, karena partner-partner di VC papan atas Silicon Valley sudah keluyuran naik <a href="http://www.google.com/url?sa=t&amp;source=web&amp;cd=1&amp;sqi=2&amp;ved=0CDUQFjAA&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.gulfstream.com%2Fproducts%2Fg650%2F&amp;ei=OiaJTuHqAsKmrAfLiK3pDA&amp;usg=AFQjCNGVnkvFNW7wbxKVOw3dIXh-JrGcNw&amp;sig2=pKL3LdUf4sg34i3sO3PsxQ" target="_blank">Gulfstream</a>&#8230; Bercanda dikit gak pa pa, ya.. Jangan serius mulu..), dan kita di Indonesia masih pada tahap Merangkak.</p>
<p>Ini tentu saja bukan berarti bahwa ekosistem kita jelek. Sama sekali bukan begitu artinya.</p>
<p>Menurut saya, ini hanya berarti bahwa kita harus sadar bahwa jalan kita masih jauh, perjalanan masih panjang.</p>
<p>Inisiatif-inisiatif yang sudah mulai di-kick start oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan merasa berkepentingan supaya bisa ditingkatkan lagi. Mudah-mudahan wacana untuk mengkordinasi <a href="http://www.bisnis.com/articles/jaringan-angel-investor-di-tanah-air-bakal-dibentuk" target="_blank">Angel Investor</a> seperti yang pernah dilontarkan pada saat GEPI kemarin bisa segera direalisasikan. Mudah-mudahan kegiatan di <a href="http://www.mekar.biz/" target="_blank">Mekar</a> untuk mempertemukan entrepreneur dan investor juga dapat berjalan lancar, efisien dan transparan.</p>
<p>Selain itu, akhir-akhir ini kita sudah mendengar tentang adanya group bisnis yang sudah mulai set-up Venture Capital seperti Djarum Group dengan GDP Ventures, dan juga Group Bakrie dengan <a href="http://www.nusantaraincubation.com/" target="_blank">Nusantara Incubation</a>, saya menjadi sangat tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut mengenai visi Djarum Group dan Group Bakrie terkait dengan technology start-ups di Indonesia.</p>
<p>Mr. Martin Hartono &amp; Mr. Anindya Bakrie, saya tunggu undangan diskusinya.</p>
<p>Ditulis oleh:</p>
<p><strong>William Henley</strong></p>
<p><a href="http://www.linkedin.com/profile/view?id=24976833" target="_blank">My LinkedIn Profile</a></p>
<p>My Twitter: <a href="http://twitter.com/WilliamBotak" target="_blank">@WilliamBotak</a></p>
<p>Silahkan subscribe ke <a href="http://www.bizlosophy.com/feed/" target="_blank">RSS Feeds</a> supaya Anda di-informasikan mengenai makalah-makalah saya yang berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bizlosophy.com/2011/10/quo-vadis-funding-ecosystem-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salah Kaprah Technology StartUps di Indonesia</title>
		<link>http://www.bizlosophy.com/2011/09/salah-kaprah-technology-startups-di-indonesia/</link>
		<comments>http://www.bizlosophy.com/2011/09/salah-kaprah-technology-startups-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 10:42:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>William Henley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Start Up]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bizlosophy.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Majalah SWA edisi 22 September mengusung tema “Pertaruhan Investor Berebut Startups Jempolan”. Dalam edisi ini, banyak artikel yang mengulas contoh-contoh perusahaan teknologi dan juga investor-investor yang menanamkan modalnya dalam industri ini di Indonesia saat ini. Memang selama hampir setahun terakhir, sudah relatif cukup sering muncul berita yang memberikan kesan bahwa perusahaan teknologi adalah sesuatu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Majalah <a title="SWA - Edisi 22/09/2011" href="http://www.facebook.com/swamagazine" target="_blank">SWA edisi 22 September</a> mengusung tema “Pertaruhan Investor Berebut Startups Jempolan”. Dalam edisi ini, banyak artikel yang mengulas contoh-contoh perusahaan teknologi dan juga investor-investor yang menanamkan modalnya dalam industri ini di Indonesia saat ini. Memang selama hampir setahun terakhir, sudah relatif cukup sering muncul berita yang memberikan kesan bahwa perusahaan teknologi adalah sesuatu yang seksi &amp; relatif glamor.</p>
<p>Kesan seksi &amp; glamor ini merupakan dampak dari hal serupa yang terjadi dengan perusahaan-perusahaan teknologi di luar negri, terutama di Amerika Serikat, akibat meningkatnya harga saham dari perusahaan-perusahaan tersebut. Hal ini mengakibatkan meningkatnya kekayaan para pemegang saham, termasuk juga pendiri perusahaan dan juga eksekutif puncak dari perusahaan-perusahaan tersebut.</p>
<p>Meningkatnya harga saham yang sangat signifikan terjadi pada perusahaan teknologi yang sudah tidak asing lagi namanya seperti <a title="Google" href="http://www.google.com" target="_blank">Google</a> dan <a title="Apple" href="http://www.apple.com" target="_blank">Apple</a>. Hal ini mengakibatkan Sergei Brin &amp; Larry Page, dua pendiri Google yang masih amat belia, memperoleh status sebagai orang-orang terkaya di dunia. Hal yang sama terjadi juga kepada Steve Jobs sebagai pendiri dan CEO Apple.</p>
<p>Selain dari kedua perusahaan yang sudah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek tersebut, beberapa perusahaan teknologi yang belum mencatatkan sahamnya di Bursa Efek juga mengalami hal yang sama akibat dari meningkatnya valuasi pada saat masuknya investor baru pada tahap <em>fund-raising</em> terakhir. <a title="Facebook" href="http://www.facebook.com" target="_blank">Facebook</a> &amp; <a title="Groupon" href="http://www.groupon.com" target="_blank">Groupon</a> adalah dua contoh paling relevan. Walaupun sampai sekarang belum IPO, valuasi Facebook mencapai US$50 milyar pada saat Goldman Sachs menggalang dana investor di bulan Juli 2011 yang lalu untuk diinvestasikan di Facebook. Valuasi yang amat sangat luar biasa tersebut mejadikan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg sebagai bilioner termuda di dunia. Saat ini Groupon sedang merencanakan IPO dan diperkirakan akan mendapatkan valuasi sebesar US$25 milyar.</p>
<p>Proses “Wealth Creation” akibat meningkatnya valuasi &amp; harga saham perusahaan-perusahaan teknologi di Amerika Serikat juga berimbas ke beberapa negara lain seperti di China &amp; India. Berhubung karena efek bergulir tersebut, tidak sedikit orang yang mengantisipasi bahwa Indonesia sebagai negara dengan populasi 245 juta jiwa akan segera mendapat giliran, sehingga dapat miningkatkan valuasi perusahaan teknologi di Indonesia dan juga para stakeholdersnya, termasuk pemegang saham dan juga eksekutif-eksekutif yang ada di perusahaan-perusahaan tersebut.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Internet Business Model</span></strong></p>
<p>Jika dilihat dari perusahaan teknologi di Amerika Serikat, business model yang sangat menguntungkan awalnya adalah di sektor (i) Pornografi, (ii) Perjudian &amp; (iii) e-Commerce. Hal ini mengalami perobahan yang cukup signifikan pada saat Google berhasil membuktikan bahwa fungsi “Search” dan turunannya dapat memberikan revenue yang amat sangat tinggi sehingga mengakibatkan harga saham Google meningkat secara signifikan.</p>
<p>Munculnya konsep <a title="Web 2.0" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Web_2.0" target="_blank">Web 2.0</a>, dimana peran social media dalam memfasilitasi interaksi antara pengguna internet juga diperkirakan akan dapat memberikan kontribusi pendapatan yang sangat potential. Tentu saja, ekpektasi ini boleh dianggap telah memuncak dengan valuasi yang diasosiasikan dengan Facebook sebagai platform social media terbesar di dunia dengan jumlah user mencapai 750 juta orang.</p>
<p>Dari business model yang ada, mulai dari pornografi, perjudian, e-commerce, search, content sampai ke social media, boleh disimpulkan bahwa pornografi dan perjudian tidak akan bisa menjadi bisnis model yang mewabah dan dapat diterima oleh masyarakat luas karena hambatan-hambatan kultural &amp; sosial di Indonesia. Secara sembunyi-sembunyi dan mungkin secara underground, pornografi dan perjudian mungkin memiliki eksistensi tersendiri, tetapi saya tidak dapat melihat kedua bisnis model ini menjadi <em>mainstream</em> di Indonesia.</p>
<p>“Search” dan social-media adalah bisnis model yang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan berinternet di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa Google dan fungsi searchnya sudah “integrated” dalam kehidupan <em>mainstream</em> di Indonesia. Sudah bukan merupakan rahasia lagi baik di Indonesia maupun secara global bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna terbanyak platform social media seperti Facebook &amp; Twitter.</p>
<p>Terkait dengan platform social media yang sudah eksis seperti Facebook &amp; Twitter, saya yakin bahwa fitur &amp; fungsionalitas dari platform tersebut tidak akan bisa di-imbangi oleh produk / social media platform versi lokal. Oleh karena itu, saya tidak melihat banyak opportunity untuk “wealth creation” dalam skala besar dari platform local di layanan dan produk social media tersebut.</p>
<p>Pola dari semarak StartUp di Indonesia dapat dilihat dari portofolio yang ditampilkan di beberapa komunitas seperti StartUpLokal. Dari sekitar 150 portofolio yang ditampilkan melalui <a title="StartUpLokal" href="http://startuplokal.org/showcase/alltime/" target="_blank">website StartUpLokal</a>, terlihat bahwa business model yang ada dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori:</p>
<ol>
<li>Clone dari business model yang sudah ada      di Amerika Serikat,</li>
<li>Website/forum komunitas,</li>
<li>eCommerce &amp; eService.</li>
</ol>
<p>Terus terang, dalam konteks perusahaan teknologi yang sedang kita bicarakan, istilah StartUp sudah dipergunakan terlalu bebas. Idealnya, istilah StartUp dipergunakan untuk menyebut perusahaan teknologi yang telah berbentuk badan hukum (incorporated). Tapi melihat portofolio yang ditampilkan tersebut, saya jadi bertanya-tanya apakah sebuah discussion board/forum untuk sebuah profesi tertentu pantas disebut sebagai StartUp? Mungkin akan masuk akal kalau anggota discussion board tersebut sudah mencapai 3 juta orang seperti di <a title="KasKus" href="http://www.kaskus.us" target="_blank">KasKus</a>. Akan tetapi tanpa basis komunitas yang besar, saya tidak melihat discussion board dapat menjadi sebuah business model yang dapat bertahan dan sustainable, baik di Indonesia maupuan di negara lain.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">eCommerce di Indonesia: Kendala Struktural yang Intrinsik</span></strong></p>
<p>Salah satu aspek paling menarik dari pengamatan saya terhadap dunia StartUp di Indonesia adalah banyaknya perusahaan yang berkutat di segment eCommerce.</p>
<p>Mengapa menarik? Karena banyaknya kendala yang membutuhkan waktu yang relatif lama untuk dapat dicarikan solusinya. Oleh karena itu, menurut saya, keterlibatan sebuah StartUp di segment eCommerce di Indonesia harus disertai hal-hal di bawah ini:</p>
<ol>
<li>Modal yang sangat besar,</li>
<li>Ekspektasi period Return on Investment yang relatif jauh lebih lama:</li>
<li>Seleksi produk yang tepat</li>
</ol>
<p>Mengapa saya bilang banyak sekali kendala?</p>
<p>Dan mengapa saya bilang kendala-kendala tersebut butuh waktu yang lama untuk dicarikan solusinya?</p>
<p>Adapun kendala struktural yang intrinsik di bisnis eCommerce di Indonesia adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Belum      adanya eCommerce Payment System yang dapat memfasilitasi kegiatan      eCommerce secara <em>seamless &amp; integrated</em>. Saat ini, jika Anda membeli      sesuatu lewat internet, jarang-jarang yang bisa bayar pakai kartu kredit.      Lebih sering pembayaran harus ke ATM, transfer ke rekening penjual, balik      lagi ke komputer untuk lapor detail transfer. Selagi proses ini belum      dibuat menjadi <em>integrated &amp; seamless</em>, eCommerce akan sulit      berkembang di Indonesia,</li>
<li>Kendala      logistik berupa setting geografis: Dari sejak SD kita sudah belajar bahwa Indonesia      adalah negara kepulauan yang terdiri lebih dari 16 ribu pulau dari Sabang      sampai Marauke. Sampai saat ini, (rasanya) belum ada solusi logistik yang      dapat memfasilitasi kegiatan eCommerce dengan lancar dan nyaman. Kalaupun      ada, saya rasa konsumen Indonesia      masih belum sepenuhnya <em>confident</em> dengan jaminan kualitas layanan ini.      Quick survey: Maukah Anda membeli TV LCD 42 inch terbaru lewat internet      untuk pengiriman dari Jakarta      ke Tebing Tinggi di Sumatera Utara?</li>
</ol>
<p>Saya bukan mengatakan bahwa kendala-kendala di-atas tidak akan pernah bisa diatasi. Adapun poin yang ingin saya tekankan adalah bahwa kendala-kendala struktural tersebut belom akan ada solusinya dalam waktu dekat, sehingga para investor dan pelaku eCommerce di Indonesia harus kuat modal dan bersedia berpikir long-term untuk bisnis eCommerce mereka masing-masing.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Technology &amp; Wealth Creation di Indonesia</span></strong></p>
<p>Tadi saya sudah bahas bahwa salah satu penyebab maraknya StartUp di Indonesia disebabkan karena adanya proses <em>Wealth Creation</em> melalui pasar modal di Amerika Serikat.</p>
<p>Apakah hal yang sama telah terjadi di Indonesia?</p>
<p>Rasanya belum. Beberapa perusahaan teknologi yang telah berhasil mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta pada periode DotCom 1.0 dari periode 12 tahun yang lalu, saat ini telah beralih lini bisnis, atau malah sudah tidak eksis lagi.</p>
<p>- IndoExchange.com (INDX) sekarang telah beralih lini bisnis menjadi perusahaan batu-bara,</p>
<p>- Metamedia (META) sekarang telah berubah nama menjadi Nusantara Infrastructure dengan lini bisnis pengelolaan jalan tol,</p>
<p>- Kopitime DotCom (KOPI) sekarang sudah dicabut pencatatan sahamnya oleh otoritas bursa.</p>
<p>Sampai sekarang belum ada StartUp Web 2.0 yang berhasil mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia.</p>
<p>Walaupun belum ada perusahaan teknologi Web 2.0 yang IPO di Bursa Efek Jakarta, selama 1,5 terakhir kita telah mengamati beberapa deal/transaksi yang relatif cukup <em>high-profile</em> berhasil di-eksekusi di Indonesia.</p>
<p>Beberapa deal-deal tersebut antara lain:</p>
<ol>
<li>Akusisi      YAHOO terhadap Koprol.com,</li>
<li>Investasi oleh East Venture di      <a href="http://dailysocial.net/2010/03/25/tokopedia-terima-dana-investasi-dari-east-ventures/" target="_blank">Tokopedia.com</a>,</li>
<li>Investasi oleh East Venture di      <a href="http://dailysocial.net/2010/06/01/urbanesia-com-tidak-diakuisisi-investor-singapura/" target="_blank">Urbanesia.com</a>,</li>
<li>Investasi oleh East Venture di <a href="http://dailysocial.net/2010/07/04/portfolio-ke-3-east-ventures-apps-foundry/" target="_blank">AppsFoundy</a>,</li>
<li>Investasi oleh Djarum Group di KasKus,</li>
<li>Akuisisi      Para Group terhadap <a href="http://dailysocial.net/2011/06/28/para-grup-dikabarkan-akuisisi-raksasa-media-online-di-indonesia/" target="_blank">DetikCom</a>,</li>
<li>Akuisisi      Groupon terhadap <a href="http://dailysocial.net/2011/04/06/groupon-akuisisi-disdus/" target="_blank">DisDus.com</a>,</li>
<li>Akuisisi      LivingSocial terhadap <a href="http://dailysocial.net/2011/06/27/breaking-livingsocial-akuisisi-dealkeren/" target="_blank">DealKeren.com</a>.</li>
</ol>
<p>Apakah deal-deal di-atas merupakan pemicu (<em>trigger)</em> dari semarak dan animo terhadap StartUp di Indonesia?</p>
<p>Di sinilah saya merasakan bahwa ada <strong>SALAH KAPRAH DOSIS TINGGI</strong> yang saat ini berlangsung dalam kancah StartUp di Indonesia.</p>
<p><strong>SALAH KAPRAH?? DOSIS TINGGI??</strong></p>
<p>Deal-deal di-atas merupakan pertanda bahwa <strong><em>ADA INVESTOR YANG BERMINAT</em></strong> terhadap perusahaan teknologi di Indonesia. TITIK.</p>
<p>Minat yang ditunjukkan oleh investor dengan melakukan investasi ataupun mengakuisisi perusahaan-perusahaan teknologi di atas <strong>BELUM TENTU</strong> meng-indikasikan bahwa telah terjadi proses <em><strong>Wealth Creation</strong></em> seperti yang telah terjadi di Amerika Serikat.</p>
<p>Mengapa deal-deal di atas <strong>TIDAK IDENTIK</strong> dengan proses Wealth Creation?</p>
<p>Karena, deal-deal yang bersifat high-profile dan banyak dipublikasikan di media tersebut <strong>SAMA SEKALI TIDAK DISERTAI</strong> dengan <strong>NILAI TRANSAKSI &amp; VALUASI</strong> yang <strong>TRANSPARAN</strong>.</p>
<ol>
<li>Tahukah      Anda nilai pembelian Koprol.com oleh YAHOO?</li>
<li>Tahukah Anda nilai investasi East Venture      di Tokopedia.com? Untuk berapa persen kepemilikan di Tokopedia.com?</li>
<li>Tahukah Anda nilai investasi East Venture      di Urbanesia.com? Untuk berapa persen kepemilikan di Urbanesia.com?</li>
<li>Tahukah Anda nilai investasi East Venture      di AppsFoundry.com? Untuk berapa persen kepemilikan di AppsFoundry.com?</li>
<li>Tahukah Anda nilai investasi Djarum Group      di KasKus?</li>
<li>Apakah Djarum Group benar-benar melakukan      investasi di KasKus?</li>
<li>Tahukah      Anda nilai pembelian DetikCom oleh Para Group?</li>
<li>Tahukah      Anda nilai pembelian DisDus.com oleh Groupon? Bayarnya pakai apa? Pakai      CASH? Atau pakai saham Groupon?</li>
<li>Tahukah      Anda nilai pembelian DealKeren.com oleh LivingSocial? Bayarnya pakai apa?      Pakai CASH? Atau pakai saham LivingSocial?</li>
</ol>
<p>Sampai tulisan ini di-upload, saya berani jamin bahwa Anda tidak akan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut secara resmi dan transparan.</p>
<p>Nah, jika sebuah deal / transaksi tidak bisa dinilai berdasar azas-azas penilaian yang bisa diterima dalam kaedah &amp; konteks investasi, kenapa juga kita harus ikut-ikutan heboh?</p>
<p>Kenapa juga kita harus memimpikan “Nanti satu hari StartUp saya akan diakuisisi oleh YAHOO seperti Koprol.com”??</p>
<p>Saya pikir, media kita juga berperan serta dan memiliki kontribusi yang tidak sedikit dalam meng-kompori kehebohan ini. Tidak sedikit artikel-artikel mengenai deal-deal di atas di tulis oleh wartawan yang tidak memiliki pengertian yang memadai mengenai StartUp dan sektor teknologi, dan juga tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai konsep dasar investasi. Walaupun demikian, tetap saja artikel ditulis, kemudian dipublikasikan dan diterbitkan dengan tema &amp; topik yang bombastis demi untuk meningkatkan oplah penjualan majalah.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-84" style="border-style: initial; border-color: initial;" title="Gatra Djarum Kaskus" src="http://www.bizlosophy.com/wp-content/uploads/2011/09/Gatra-Djarum-Kaskus.jpg" alt="Gatra Djarum Kaskus" width="180" height="237" /></p>
<p>Majalah <a title="Gatra - 31 Maret 2011" href="http://arsip.gatra.com/2011-03-31/artikel.php?id=146758" target="_blank">GATRA edisi Maret 31, 2011</a> memiliki Cover dengan foto pendiri KasKus Andrew Darwis dengan headline yang berbunyi “DIGUYUR DUIT SATU TRILYUN”. Baris pertama dari artikel berbunyi “Grup Djarum, melalui bendera Global Digital Prima Venture, menanamkan dana segar Rp 1 trilyun lebih ke forum <em>online </em>Kaskus.”</p>
<div>
<p>C’mon, man…. Apakah benar ada statement resmi, baik verbal ataupun tertulis yang mengatakan bahwa dana segar sebesar Rp.1 trilyun sudah ditanamkan oleh Grup Djarum di KasKus?</p>
<p>Saya jadi bertanya-tanya apakah penulis artikel tersebut mengerti perbedaan antara “investasi cash sebesar Rp.1 trilyun” dengan “investasi yang men-valuasi KasKus senilai Rp.1 trilyun”. Bedanya tentu saja selangit. Gawatnya adalah kalau perbedaannya tidak diketahui tetapi tetap saja menjadi sebuah artikel yang diterbitkan dalam sebuah majalah nasional, bukankah itu menjadi sebuah mis-representasi yang amat sangat tidak pada tempatnya?</p>
<p>Bukan tujuan saya menulis makalah ini sebagai kritik terhadap StartUp dan teman-teman saya pelaku pelaku perusahaan teknologi di Indonesia. Saya sendiri adalah investment banker dengan pengalaman lebih dari 15 tahun dan banyak berkecimpung dan melakukan investasi di sektor teknologi.  Saya sendiri adalah pemilik portal otomotif <a title="Otopedia.com" href="http://www.otopedia.com" target="_blank">Otopedia.com</a> dan pemilik TAPESTRIX, sebuah social media platform yang dapat di-customize.</p>
<p>Adapun tujuan dari makalah saya ini adalah supaya kita dapat melihat industri StartUp di Indonesia dalam konteks yang benar supaya semua pihak yang terkait dapat memetik manfaat yang sebesar-besarnya tanpa adanya miskomunikasi, misrepresentasi dan misunderstanding dan dapat merugikan semua pihak yang terlibat.</p>
<p>Ditulis oleh:</p>
<p>William Henley</p>
<p><a title="LinkedIn - William Henley" href="http://www.linkedin.com/profile/view?id=24976833" target="_blank">My LinkedIn Profile</a></p>
<p>My Twitter: <a title="Twitter: @WilliamBotak" href="http://twitter.com/WilliamBotak" target="_blank">@WilliamBotak</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bizlosophy.com/2011/09/salah-kaprah-technology-startups-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Visualisasi Entrepreneurship</title>
		<link>http://www.bizlosophy.com/2010/05/visualisasi-entrepreneurship/</link>
		<comments>http://www.bizlosophy.com/2010/05/visualisasi-entrepreneurship/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 01:55:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>William Henley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Others]]></category>
		<category><![CDATA[Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[growth]]></category>
		<category><![CDATA[Walmart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bizlosophy.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Seorang entrepreneur seringkali mengalami hambatan dalam membayangkan arah perkembangan bisnisnya. Padahal, tanpa arah yang jelas, seorang entrepreneur akan kesulitan memotivasi diri untuk mengembangkan bisnisnya. Idealnya ada sebuah cara yang dengan efektif dapat memicu upaya-upaya pengembangan sebuah bisnis.
Kemarin saya menemukan sebuah infographic yang mem-plot pola perkembangan Walmart di Amerika Serikat sejak tahun 1962 s.d. 2010. Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://projects.flowingdata.com/walmart/" target="_blank"><img class="alignleft size-medium wp-image-73" title="WalMart Growth" src="http://www.bizlosophy.com/wp-content/uploads/2010/05/WalMart-Growth-300x177.jpg" alt="WalMart Growth" width="300" height="177" /></a>Seorang entrepreneur seringkali mengalami hambatan dalam membayangkan arah perkembangan bisnisnya. Padahal, tanpa arah yang jelas, seorang entrepreneur akan kesulitan memotivasi diri untuk mengembangkan bisnisnya. Idealnya ada sebuah cara yang dengan efektif dapat memicu upaya-upaya pengembangan sebuah bisnis.</p>
<p>Kemarin saya menemukan sebuah <em><a href="http://projects.flowingdata.com/walmart/" target="_blank">infographic</a></em> yang mem-plot pola perkembangan <a href="http://www.walmart.com" target="_blank">Walmart</a> di Amerika Serikat sejak tahun 1962 s.d. 2010. Dalam visualisasi yang sangat efektif ini, terlihat perkembangan Walmart selama hampir 50 tahun terakhir.</p>
<p>Jika Anda memulai sebuah bisnis sekarang, bagaimanakah Anda membayangkan perkembangannya 50 tahun ke depan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bizlosophy.com/2010/05/visualisasi-entrepreneurship/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips &amp; Tricks? Atau Bullshit??</title>
		<link>http://www.bizlosophy.com/2010/02/tips-tricks-atau-bullshit/</link>
		<comments>http://www.bizlosophy.com/2010/02/tips-tricks-atau-bullshit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 10:58:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>William Henley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buzz]]></category>
		<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bizlosophy.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Coba Anda pergi ke toko buku swalayan di kota Anda. Ada berapa buku bertema tips dan triks yang di sampulnya memiliki makna sebagai berikut : “Cara Mudah Berbisnis Dengan Modal Dengkul”, “Jadi Kaya Dalam 30 Hari!”, “Membuat Portofolio Investasi Tahan Badai Ekonomi”, “Berjualan Tanpa Penolakan”, “101 Bisnis Tahan Banting Yang Akan Membuat Anda Kaya”, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Coba Anda pergi ke toko buku swalayan di kota Anda. Ada berapa buku bertema tips dan triks yang di sampulnya memiliki makna sebagai berikut : “Cara Mudah Berbisnis Dengan Modal Dengkul”, “Jadi Kaya Dalam 30 Hari!”, “Membuat Portofolio Investasi Tahan Badai Ekonomi”, “Berjualan Tanpa Penolakan”, “101 Bisnis Tahan Banting Yang Akan Membuat Anda Kaya”, dan lain sebagainya.</p>
<p>Itu baru di toko buku, sekarang buka surat kabar nasional atau majalah bisnis-dan-ekonomi, lalu lihat berapa banyak iklan-iklan seminar tentang cara bertransaksi saham dengan <em>trading system</em> yang dapat membuat orang kaya raya dalam satu hari; teknik-teknik penjualan terbaru tanpa penolakan; dan lain sebagainya. Tentu saja di iklan tersebut, selain jumlah harga seminar, biasanya diberi embel-embel “jaminan mutu” tertentu, seperti testimonial mantan peserta yang berhasil atau kata-kata yang menguatkan manfaat seminar bagi peserta.</p>
<p>Padahal dengan logika dan akal sehat, apakah mungkin dengan membaca buku atau mengikuti seminar tersebut seseorang dapat menjadi kaya dalam waktu satu hari atau paling lama 30 hari? Kalau memang benar, mengapa tidak ada buku tentang cara menjadi dokter spesialis bedah syaraf dan otak dalam 30 hari? Anda baca hari ini, bulan depan Anda boleh berganti profesi menjadi seorang dokter bedah terkemuka.</p>
<p>Namun sebenarnya itulah pekerjaan seorang ahli pemasaran, <span style="text-decoration: underline;">mengarahkan</span> pola pikir masyarakat awam agar memilih produk yang ditawarkan dengan memanfaatkan kondisi tertentu. Masyarakat awam sangat mudah <em>dipincut</em> dengan hal-hal yang berbau emosional. Lebih mudah menjual kata “kaya”, “sukses”, “pintar”, dan kata lainnya yang sejenis, daripada mengajarkan tentang seluk beluk bisnis yang sebenarnya.</p>
<p><em>Nothing easy in this world!</em> Hukum alam berkata bahwa segala sesuatu membutuhkan usaha, dan usaha berbanding lurus dengan hasil. Usaha besar-hasil besar, usaha mimpi-hasil mimpi juga tentunya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bizlosophy.com/2010/02/tips-tricks-atau-bullshit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Work Hard vs. Work Smart &#8230; Leverage is Key!!</title>
		<link>http://www.bizlosophy.com/2010/02/work-hard-vs-work-smart-leverage-is-key/</link>
		<comments>http://www.bizlosophy.com/2010/02/work-hard-vs-work-smart-leverage-is-key/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 08:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>William Henley</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[leverage]]></category>
		<category><![CDATA[work hard]]></category>
		<category><![CDATA[work smart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bizlosophy.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Sedikit waktu, banyak pekerjaan, hasil biasa-biasa saja? Saya kira banyak manusia yang mengalami hal serupa. Padahal, sebenarnya seluruh umat manusia di Bumi ini memiliki jumlah waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari. Namun sumber daya waktu yang sama ini dapat menghasilkan output yang berbeda-beda. Ada manusia yang memiliki output lebih banyak, ada yang wajar atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sedikit waktu, banyak pekerjaan, hasil biasa-biasa saja? Saya kira banyak manusia yang mengalami hal serupa. Padahal, sebenarnya seluruh umat manusia di Bumi ini memiliki jumlah waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari. Namun sumber daya waktu yang sama ini dapat menghasilkan output yang berbeda-beda. Ada manusia yang memiliki output lebih banyak, ada yang wajar atau biasa-biasa saja, dan bahkan tidak sedikit yang menghasilkan justru lebih sedikit dari yang seharusnya.</p>
<p>Perbedaan jumlah output tersebut disebabkan oleh fungsi <em>leverage</em> atau pemanfaatan sumber-sumber daya yang ada tanpa kesulitan untuk mengakses dan mengutilisasi sumber daya tersebut dengan optimal. Waktu, uang, karyawan, tanah, dan barang modal lainnya adalah sumber daya yang harus kita kelola dengan optimal, baik dalam bisnis atau pekerjaan.</p>
<p>Contohnya, ada dua orang direktur yang memiliki gaya berbeda. Direktur pertama ia mengawasi dan mengelola 100 orang di bawahnya. Sementara direktur kedua, membagi seratus orang tersebut ke dalam 4 grup yang masing-masing memiliki pimpinannya sendiri untuk mengelola grupnya. Mana yang lebih mudah mengelola dan mengawasi 100 orang langsung, atau hanya 4 orang?</p>
<p>Direktur yang pertama tentu saja menghabiskan waktu yang lebih lama untuk melakukan pekerjaannya. Sementara direktur kedua hanya membutuhkan waktu seperempat waktu direktur pertama untuk melakukan pekerjaan yang sama. Sedangkan sisa waktu yang tersedia dapat ia digunakan untuk keperluan lain yang produktif. Direktur kedua mengelola <em>leverage</em>-nya dengan baik dengan cara mendistribusikan beban kerja kepada empat orang tersebut untuk membantu mengelola dan mengawasi 96 orang sisanya.</p>
<p>Seorang <em>businessman</em> atau profesional harus lihai memainkan <em>leverage</em>-nya dengan sempurna agar mendapatkan kinerja tinggi. Pada titik itu ia akan mendapatkan fungsi output dan sumberdaya yang eksponensial, yang berarti dengan sumber daya secukupnya akan menghasilkan output lebih besar dari yang seharusnya.</p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bizlosophy.com/2010/02/work-hard-vs-work-smart-leverage-is-key/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

