The Philosophy of Business...In Essence

Bizlosophy Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Google vs. SITTI = David vs. Goliath?

Tuesday, January 17, 2012 @ 12:01 AM

Memasuki tahun 2012, dunia bisnis di Indonesia secara umum dan pelaku technology startup secara khusus mengamati satu inisiatif dari Google terkait dengan rencana investasinya di Indonesia. Dengan launching program Bisnis Lokal Go Online, Google melakukan gebrakan yang cukup kolosal karena program ini direncanakan untuk memberikan website gratis kepada 100.000 UKM.

Sebenarnya, program dengan ‘spirit’ untuk memberdayakan UKM sudah pernah dijalankan oleh SITTI dengan program ‘Nurbaya Initiative’ yang direncanakan sebagai ekosistim digital untuk UKM.

Adapun alasan saya membahas keterlibatan Google dengan program Bisnis Lokal Go Online dan SITTI dengan program Nurbaya Initiative adalah terkait dengan ekosistem start up industri di Indonesia dimana masih maraknya startup dengan konsep yang tidak jelas, sumber pendanaan yang terbatas dan strategi monetisasi (strategi cari duit) yang terlalu ambisius dengan asumsi yang sangat diragukan.

SITTI adalah salah satu startup teknologi Indonesia yang paling high-profile, terutama karena adanya kesan bahwa SITTI diposisikan sebagai alternatif yang lebih baik terhadap Google terkait konsep contextual search & advertising di Indonesia.

Terlepas dari keberhasilan strategi dan positioning yang diusung oleh SITTI, satu hal yang bisa dipastikan adalah adanya perbedaan yang amat sangat mencolok dari kinerja SITTI sebagai sebuah perusahaan, terutama jika dilihat dari omzet & profitabilitasnya dibandingkan dengan Google yang diposisikan sebagai kompetitor terkait dengan konsep contextual advertising di atas. Saya rasa walaupun kita tidak memiliki informasi mengenai income SITTI, tidak ada satu orangpun yang berani membantah bahwa SITTI belum memiliki kinerja finansial yang setara, atau bahkan mendekati Google yang memiliki nilai penjualan sebesar US$40 miliar per tahun.

Kondisi finansial inilah yang akan selalu menghantui teknologi startup di Indonesia selagi ekosistem finansial masih belum efisien dan bergairah. Kondisi finansial ini jugalah yang akan menjadi faktor utama dibalik keberhasilan sebuah startup untuk bertahan & survive di tengah kesulitan untuk monetisasi produk dan jasa startup-startup tersebut.

Kondisi finansial ini jugalah yang akan kembali saya pergunakan untuk mengingatkan para pelaku startup Indonesia bahwa produk dan layanan mereka harus dibarengi dengan kondisi finansial yang mapan supaya kelangsungan hidup mereka dapat terjamin.

Kembali ke topik inisiatif untuk membantu UKM, SITTI dan Google dengan cara masing-masing berupaya untuk memfasilitasi sebuah ekosistem digital untuk UKM. Saya rasa, dalam hal ini, SITTI dan Google memiliki aspirasi yang sama yaitu supaya dapat menguasai captive-market untuk bisnis contextual advertising dimana mereka bersaing dengan ketat.

Persaingan antara SITTI dengan Google ini adalah sebuah persaingan yang sangat tidak ’fair’. Saya rasa kita semua sudah mulai bisa mengerti bahwa kesulitan terbesar terkait bisnis teknologi di Indonesia adalah kesulitan untuk meng-edukasi pasar dan kesulitan untuk mensosialisasikan sebuah produk & layanan sehingga bisa diterima oleh pasar.

Terkait dengan program edukasi pasar inilah kemampuan finansial sebuah startup akan diuji. Baik SITTI dan Google menhadapi masalah yang sama yakni dibutuhkan sumberdaya yang luar biasa besar sehingga inisiatif mereka bisa mencapai apa yang diharapkan dari awal. Waktu dan dana yang dibutuhkan untuk merealisasikan Nurbaya Initiative dan Bisnis Lokal Go Online amatlah sangat besar dan sama sekali tidak bisa dianggap remeh.

Persaingan SITTI dan Google dalam membentuk ekosistem digital UKM di Indonesia seharusnya bisa menjadi case-study yang sangat relevan untuk membuktikan bahwa proses implementasi sebuah business-plan membutuhkan sumberdaya yang luar biasa besar. Hal ini semakin penting dicermati di Indonesia karena perlunya proses edukasi dan sosialisasi yang intensif dan berkelanjutan, sehingga aspek permodalan & monetisasi tidak bisa diabaikan dalam proses pembentukan sebuah startup ataupun sebuah bisnis lain secara umum.

Keberhasilan Nurbaya Initiative dan Bisnis Lokal Go Online akan sangat ditentukan oleh tersedianya sumberdaya pendanaan yang dialokasikan oleh SITTI dan Google untuk menjalankannya.

Memang program Bisnis Lokal Go Online baru saja di-launching minggu lalu, sehingga mungkin terlalu cepat untuk mem-vonis inisiatif siapa yang akan lebih sukses.

Akan tetapi jika kita kaitkan lagi dengan dibutuhkannya sumberdaya pendanaan untuk menunjang kesuksesan sebuah program, rasanya sudah ada gambaran cukup jelas inisiatif siapa yang akan lebih sukses pada saat eksekusinya.

Berhubung karena Nurbaya Initiative dan Bisnis Lokal Go Online sama-sama berupaya memajukan UKM Indonesia, memang idealnya adalah SITTI dan Google bisa sama-sama sukses. Tapi, rasanya kita sama-sama tahu bahwa hidup itu sering kali tidak ideal, bukan?

Ditulis oleh:

William Henley

My LinkedIn Profile

My Twitter: @WilliamBotak

Silahkan subscribe ke RSS Feeds supaya Anda di-informasikan mengenai makalah-makalah saya yang berikutnya.