The Philosophy of Business...In Essence

Bizlosophy Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Start Up Mimpi… Better Wake Up Soon…

Monday, December 12, 2011 @ 02:12 PM

Hari Kamis 8 Desember 2011 yang lalu, saya hadir di StartUpLokal MeetUp v.20 di @america yang mengusung tema Outlook 2012. Seperti biasa, acara dipadati pengunjung dari kalangan aktivis teknologi startups, mungkin karena tema-nya yang menarik, mungkin juga karena pembicaranya adalah Rama Mamuaya (CEO DailySocial.net) dan Danny Wirianto (boss MerahPutih Inc.), atau bisa saja karena ada lucky draw berupa Kindle yang disediakan oleh sponsor dari Amazon Web Service.

Terus terang saja, ada beberapa point dari presentasi Rama & Danny yang membuat saya agak sedikit terusik. Setelah melihat catatan saya tentang presentasi mereka, akhirnya saya temukan penyebabnya:

Copycats Will Die

Rama & Danny mengatakan bahwa ”copycats will die”, dan hal ini kelihatannya disampaikan secara generik dengan alasan yang menurut saya terlalu di-sederhana-kan, oversimplified – yaitu: tidak adanya inovasi.

Saya rasa, bukan rahasia lagi bahwa saya adalah salah satu pengamat & pelaku industri teknologi startup yang paling skeptis di Indonesia. Salah satu penyebab rasa skeptis saya juga terkait dengan kecenderungan copycat yang mewabah. Tapi, jika dipelajari lebih lanjut, saya rasa penyebab “kematian” startup copycat bukan semata-mata karena mereka copycat, akan tetapi karena melakukan copycat terhadap konsep-konsep yang tidak tepat guna & tepat sasaran untuk implementasi di Indonesia.

Don’t Talk About Money. Think About Greater Good.

Dalam salah satu slide presentasi-nya, Danny mengatakan supaya sebuah startup bisa sukses, “Don’t talk about money. Think about greater good”.

Helllooooo…..!?!?!?!?

Kalau sebuah startup tidak bicara soal duit, bagaimana bisa “sustain”?

Selain dihadapkan dengan kondisi ekosistem finansial yang belum efektif & efisien, startup di Indonesia juga dihadapkan dengan strategi monetisasi yang sangat terbatas. Saya rasa, sampai sekarang kita belum banyak melihat adanya startup yang benar-benar bisa hidup dari monetization strategy yang sudah terbukti berhasil.

Mungkin Detik.com merupakan sebuah kisah sukses paling kolosal dari sebuah startup di Indonesia karena berhasil berkembang dan sustainable sebagai sebuah portal berita yang dimulai dari kecil dan akhirnya berhasil memperoleh income dari penjualan iklan yang menurut kabar burung yang beredar, nilainya mencapai miliaran rupiah setiap bulannya.

Dalam segment portal berita, semua saingan Detik.com yang benar-benar eksis (VIVAnews.com & Kompas.com) didukung oleh modal yang besar, sehingga tidak pantas disebut sebagai startup dalam konteks yang kita bicarakan saat ini.

eCommerce sebagai business model, sampai saat ini masih belum bisa berkembang sesuai dengan yang diharapkan karena alasan-alasan yang telah saya ulas di-sini & di-sini.

And Danny Wirianto still say “Don’t think about money”?!?!?!

Bro, sebagian besar dari startup di Indonesia tidak memiliki sumber daya keuangan seperti yang Anda nikmati di Merah Putih Inc. Jadi sudah sangat lumrah bahwa mereka akan mikirin duit terus. Dan teman-teman kita di startup Indonesia harus mikirin duit sampai jidat berkerut karena hampir seluruh potensi-potensi mengenai industri startup yang digembar-gemborkan di Indonesia saat ini masih berupa mimpi yang jalannya masih sangat panjang untuk bisa direalisasikan.

Point-point di bawah ini selalu membuat teman-teman kita terbuai mimpi startup:
1. 40 juta pengguna internet di Indonesia, belum dihitung pengakses internet dari handphone,
2. 40 pengguna Facebook dari Indonesia,
3. 8 juta pengguna Twitter dari Indonesia,
4. 30 juta pengguna Mig33 dari Indonesia,
5. dan sebagainya

Time to wake up!!!

Facebook, Twitter adalah layanan Gratis. Seandainya untuk menggunakan Facebook & Twitter harus bayar, saya yakin-seyakin-yakinnya bahwa pengguna Facebook di Indonesia tidak akan mencapai 40 juta orang, dan orang Indonesia tidak akan sering-sering bikin trending-topic di Twitter.

StartUp Raksasa dari Silicon Valley seperti Facebook & Twitter didukung oleh modal ratusan juta dollar supaya bisa mereka bisa menawarkan layanan mereka secara gratis.

Di Indonesia, selain dari startup yang di-dukung oleh beberapa incubator dan bisnis group (konglomerat), selebihnya adalah startup yang tidak memiliki akses ke dukungan permodalan yang kuat sehingga harus mikirin duit mulai dari hari pertama.

Kalau Anda membangun sebuah startup saat ini di Indonesia dengan berharap bahwa dalam waktu 12 bulan bulan ke-depan akan bisa sustain dari eCommerce, dari layanan berbayar (subscription) atau bahkan dari jualan iklan, bersiap-siaplah supaya mimpi Anda bisa segera berubah menjadi mimpi-buruk.

Saya rasa sudah waktu-nya episode “overhype” yang dialami oleh StartUp di Indonesia kita carikan istilah baru.

Istilah apa yang paling cocok??

Start Up Mimpi sounds pretty good!!! (Note to self: Segera bikin hashtag #StartUpMimpi di Twitter… Bukan di Mindtalk.com)

Friends, better wake up soon… Before it’s too late…

Ditulis oleh:

William Henley

My LinkedIn Profile

My Twitter: @WilliamBotak

Silahkan subscribe ke RSS Feeds supaya Anda di-informasikan mengenai makalah-makalah saya yang berikutnya.