The Philosophy of Business...In Essence

Bizlosophy Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Start Up Indonesia – Begini Caranya Supaya Funding Ecosystem Bisa Bergairah

Tuesday, November 29, 2011 @ 10:11 AM

Tanggal 24 November minggu lalu, saya diminta untuk membawakan makalah dengan tema “Ekosistem Finansial Ideal untuk Perkembangan Start Up Digital Kreatif di Indonesia” untuk didiskusikan dalam sebuah Focus Group Discussion yang diselenggarakan oleh Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (www.mikti.org).

Saya yakin, diskusi di-atas berusaha untuk mempelajari mengapa sampai saat ini, ekosistem pendanaan untuk industri start-up teknologi di Indonesia masih belum bisa bergairah seperti yang ada di Amerika Serikat (terutama dalam konteks technology start-up di Silicon Valley) dan apa yang bisa dilakukan supaya ekosistem pendanaan di Indonesia dapat bergairah.

Silahkan download makalah saya di sini.

Adapun point-point yang saya paparkan dalam makalah saya adalah sebagai berikut:

  1. Di Amerika Serikat, ekosistem pendanaan sudah terbentuk dengan rapih, sehingga di setiap tahap perkembangan sebuah start-up, ada tipe-tipe investor tertentu yang bisa di-pitching untuk melakukan investasi.
  2. Banyak jenis Venture Capital yang ber-operasi di Amerika Serikat, masing-masing memiliki spesialisasi sendiri, baik spesialisasi sektoral (technology, media, alternative energy, life sciences, retail dsb), sampai ke spesialisasi tahapan / umur perusahaan (tahap awal, tahap berkembang, tahap mezzanine sampai tahap exit).
  3. Di Amerika Serikat, sudah banyak sekali venture capital yang memiliki spesialisasi untuk technology start-ups, dan sebagian besar dimotori oleh investor-investor yang telah berhasil meraup kekayaan dari perusahaan-perusahaan teknologi yang telah berhasil mencatatkan saham di bursa efek Amerika Serikat. Banyak dari venture capital yang memiliki spesialisasi di teknologi ini memiliki kantor di daerah Silicon Valley.
  4. Di Singapura, pemerintah melalui beberapa institusi juga aktif memberikan hibah  (grant) kepada perusahaan start-up, termasuk untuk technology start-ups.
  5. Cina adalah negara dengan aktivitas venture capital kedua terbesar di dunia sesudah Amerika Serikat. Venture capital Amerika Serikat juga aktif melakukan investasi di technology start-ups di Cina.
  6. Venture Capital Amerika Serikat juga aktif melakukan investasi di technology start-ups di India.
  7. Beberapa perusahaan di Cina telah berhasil mencatatkan saham di Bursa Efek Amerika Serikat (mis. Baidu, Sina, Sohu, Youku, Renren).
  8. Beberapa perusahaan di India juga telah berhasil mencatatkan saham di Bursa Efek Amerika Serikat (mis. Wipro, Satyam).
  9. Sebagian perusahaan Cina juga berhasil mencatatkan saham di Bursa Efek Hongkong (mis. Alibaba.com).
  10. Saat ini, Indonesia memiliki 97 venture capital yang berada dibawah pengawasan Bapepam-LK. Sebagian besar dari venture capital ini beroperasi dalam kancah Usaha Kecil Menengah (UKM).
  11. Format venture capital di Indonesia ini rasanya tidak akan cocok untuk melengkapi funding ecosystem technology start-up di Indonesia.
  12. Pasar modal di Indonesia (Bursa Efek Indonesia) juga bukan merupakan exit strategy yang ideal untuk technology start-ups di Indonesia, terutama karena ada pembatasan minimum Net Tangible Asset lebih dari Rp.100 miliar untuk perusahaan yang mau mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia.

Kalau begitu, apa yang harus dilakukan supaya ekosistem pendanaan untuk start-ups di Indonesia bisa lebih bergairah?

Menurut saya, hal paling penting yang perlu dilakukan untuk membuat ekosistem pendanaan menjadi bergairah adalah dengan cara meningkatkan transparansi di dalam industri technology start-ups itu sendiri.

Ekosistem pendanaan bisa dibuat bergairah apabila semakin banyak investor semakin berminat untuk menanamkan investasi di perusahaan technology start-ups.

Bagaimana membuat investor berminat untuk menanamkan investasi?

Caranya adalah dengan meningkatkan transparansi untuk setiap aktivitas investasi di industri technology start-ups di Indonesia.

Yes, I know… It’s like chicken and egg… Tapi memang itulah kenyataannya jika dilihat dari kacamata seorang investor. Dan berhubung karena topik saat ini adalah “Financial / Funding Ecosystem”, sudah hakikatnya secara otomatis harus dilihat dari kacamata investor. Correct? Bukankah demikian?

Selama ini, kita tidak mengetahui nilai transaksi & valuasi transaksi pada saat terjadi deal-deal di kalangan pelaku industri technology start-ups di Indonesia. Memang tidak ada kewajiban untuk memaparkan nilai transaksi & valuasi transaksi. Akan tetapi tidak adanya transparansi itu jugalah yang membuat ekosistem pendanaan di Indonesia tidak bergairah.

Rumor yang berseliweran banyak sekali. Tetapi tidak ada berita resmi dari investor & investee mengenai nilai transaksi maupun valuasi transaksi.

Menurut saya, cara terbaik supaya ekosistem pendanaan di Indonesia bisa bergairah adalah apabila pihak-pihak yang terkait secara transparan memaparkan nilai & valuasi dari setiap deal/transaksi. Tujuannya supaya para investor dapat mengkaji deal tersebut dalam kaedah finansial yang benar.

Jika ternyata memang deal-deal yang terjadi benar-benar menciptakan value untuk para stakeholders, saya yakin investor akan berbondong-bondong untuk berpartisipasi dalam ekosistem pendanaan technology start-up di Indonesia.

Akan tetapi, apabilah sesudah diumumkan secara transparan ternyata terms dari deal-deal yang dieksekusi tersebut tidak “lucrative” & “exciting”, ngapain juga kita heboh dan over-acting untuk sesuatu hal yang ternyata hanya biasa-biasa saja?

Jadinya salah kaprah lagi, bukan?

Ditulis oleh:

William Henley

My LinkedIn Profile

My Twitter: @WilliamBotak

Silahkan subscribe ke RSS Feeds supaya Anda di-informasikan mengenai makalah-makalah saya yang berikutnya.

*