The Philosophy of Business...In Essence

Bizlosophy Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Quo Vadis Funding Ecosystem di Indonesia

Monday, October 3, 2011 @ 09:10 AM

Dalam tulisan minggu lalu berjudul “Salah Kaprah Technology StartUps di Indonesia”, saya berargumentasi bahwa kondisi semarak (heboh) yang mewarnai industry StartUps di Indonesia akhir-akhir ini hendaknya disiasati secara faktual dan proporsional. Adapun alasan saya mengatakan hal tersebut disebabkan karena tidak adanya informasi yang memadai untuk mendukung persepsi bahwa proses Wealth Creation telah berjalan dengan baik di dalam industry StartUps di Indonesia.

Kali ini, saya ingin memaparkan observasi dan kajian saya mengenai absen-nya proses Wealth Creation tersebut, terlebih-lebih dilihat dari segi financial, khususnya terkait dengan ekosistem pendanaan (funding ecosystem).

Adapun yang dimaksud dengan funding ecosystem adalah sebuah ekosistem yang terdiri dari komponen-komponen yang memungkinkan proses funding supaya dapat berjalan dengan baik, efisien dan efektif.

Sebuah funding ecosystem dianggap baik apabila komponen-komponen seperti Source of Funds (sumber pendanaan), Valuation Matrix (matriks valuasi) & Liquidity (likuiditas) telah terbentuk dan dapat berfungsi dengan baik.

siliconvalleyDalam konteks industry teknologi & start-up di Silicon Valley yang selalu menjadi rujukan para pelaku industry di Indonesia, ketiga komponen tersebut telah terbentuk dalam kurun waktu yang lama, dan eksistensi dari komponen-komponen tersebut sudah berdampak positif terhadap terbentuknya sebuah funding ecosystem yang relatif cukup efektif & efisien.

Source of Funds

Sumber pendanaan di Silicon Valley dapat diperoleh dari investor individu maupun investor institusi. Investor individu biasanya berasal dari kalangan Family & Friends (F&F). Sering juga terjadi dimana sekelompok investor individu membentuk sebuah paguyuban sehingga terjadi penggabungan dari sumber pendanaan individu tersebut untuk diinvestasikan dalam sebuah proyek.

Selain dari investor individu, ada juga beragam investor institusi yang siap untuk melakukan investasi dalam proyek-proyek start-up. Investor institusi bisa berupa Venture Capital, bahkan Private Equity.

Dalam kategori Venture Capital (VC), terdapat beragam VC dengan spesialisasi yang berbeda-beda. Spesialisasi tersebut bisa di sektor tertentu (mis. technology, biotechnology, alternative energy dsb.) ataupun di tahap tertentu (mis. tahap produksi, tahap ekspansi, tahap bridging, tahap pre-IPO) dari sebuah project / start-up.

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai aktivitas VC-VC tersebut, seorang entrepreneur hanya perlu mampir ke website sebuah VC, yang biasanya sudah memaparkan informasi mengenai nama-nama partner, aktivitas sektoral dan portofolio investasi masing-masing VC.

Private Equity memiliki tendensi untuk melakukan investasi di perusahaan-perusahaan yang sudah established, seringkali melalui proses Merger & Acquisition.

Dalam konteks technology start-ups, komponen Source of Funds dari funding ecosystem di Silicon Valley sudah terbentuk dengan relatif baik, sehingga sebuah start-up dengan ide, konsep & business plan yang matang serta didukung oleh founder & personil yang memiliki kondite yang baik memiliki kesempatan yang cukup tinggi untuk mendapatkan investasi dari VC-VC yang ada di Silicon Valley.

Sangat disayangkan Indonesia masih belum memiliki Source of Funds yang memadai untuk mendukung perkembangan technology start-ups. Yang terjadi seringkali adalah sebuah start-up dimodali oleh para pendirinya dan harus survive tanpa bantuan pendanaan dari pihak luar.

Walaupun Modal Ventura eksis di Indonesia, akan tetapi dari segi modus operandi dan portofolio investasinya sangat berbeda dengan Venture Capital yang ada di Silicon Valley. Dalam konteks technology start-ups, Modal Ventura di Indonesia merupakan institusi yang sangat berbeda dengan VC yang ada di Silicon Valley. In other words, it’s a totally different animal.

Baru akhir-akhir ini kita ada mendengar bahwa beberapa group bisnis di Indonesia sudah mulai membentuk Venture Capital melakukan investasi di technology start-ups.

Valuation Matrix

Dalam dunia investasi, sudah ada panduan-panduan untuk melakukan assessment (penilaian) terhadap sebuah produk investasi. Panduan-panduan ini dapat berupa faktor seperti laba bersih (net-profit), nilai buku (book value), enterprise value, dsb. Gabungan dari faktor-faktor penilaian inilah yang sering disebut dengan istilah Valuation Matrix.

Valuation Matrix di industri start-up merupakan sebuah topik yang rada-rada complicated. Hal ini disebabkan oleh kesulitan untuk melakukan valuasi terhadap sebuah konsep, produk, business model baru yang dipropose oleh seorang entrepreneur.

Walaupun Valuation Matrix merupakan sebuah topik yang lumayan pelik, para investor (dalam hal ini VC) dapat menyiasatinya dengan merujuk kepada informasi public yang telah tersedia di pasar modal, walaupun mungkin kadang-kadang perlu melakukan penyesuaian (tweaking) yang dirasakan perlu.

Informasi dan analisa inilah yang diramu oleh VC sebelum memutuskan untuk melakukan investasi di start-ups. Dibawah ini adalah contoh list dari Round-A funding yang diterima oleh beberapa technology start-ups yang sudah tidak asing lagi bagi kita.

Tanggal

Nama Start-Up

Round A

June-99

Google

US$25 million

May-05

Facebook

US$12.7 million

July-07

Twitter

US$5 million

August-07

LivingSocial

US$5 million

October-08

Spotify

Euro 21.6 million

September-09

Evernote

US$6.5 million

March-10

Quora

US$11 million

June-10

Foursquare

US$20 million

August-10

Groupon

US$4.8 million

November-10

Airbnb

US$7.2 million

February-11

Instagram

US$7 million

Round A funding biasanya merupakan pendanaan dari investor pada saat prototype ataupun versi awal dari sebuah produk/service telah berhasil di-deploy.

Dalam sejarah sebuah start-up di Silicon Valley, biasanya ada beberapa tahap funding sebelum akhirnya para investor dapat menemukan exit-strategy. Tahapan funding biasanya dilakukan sesuai dengan perkembangan start-up, mulai dari tahap produksi, ekspansi, bridging, pre-IPO sampai pada tahap IPO. Idealnya di setiap tahap pendanaan baru, valuasi dari sebuah start-up bisa meningkat.

Liquidity

Liquidity (likuiditas) boleh dikatakan merupakan faktor terpenting dari sebuah funding ecosystem.

Dengan adanya liquidity, barulah seorang VC berani melakukan investasi dalam sebuah ide, konsep & business model yang baru saja dipropose oleh seorang entrepreneur.

Liquidity jugalah yang merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan adanya spesialisasi di kalangan VC sesuai dengan tahapan perkembangan sebuah start-up, sehingga VC yang investasi di Round A bisa confident bahwa akan ada VC berikut yang berminat melakukan investasi di Round B, dan berlanjut hingga ke tahap exit berupa akuisisi ataupun IPO. Otomotis, hal ini harus dibarengi dengan peningkatan kinerja dan meningkatnya value dari start-up tersebut.

Saya rasa, tidak ada satupun di-antara kita yang berani bermimpi bisa mendapatkan Round A funding sebesar US$25 juta seperti yang diperoleh Google. Berharap bisa dapat Rp.3 miliar sajapun sudah gak kebayang oleh sebagian besar dari kita.

Ketiga faktor di atas (Source of Funds, Valuation Matrix & Liquidity) dalam Funding Ecosystem inilah yang sampai saat ini belum eksis di-Indonesia. Hanya dengan tersedianya faktor-faktor tersebut, proses Wealth Creation seperti yang telah terjadi di technology start-ups di Silicon Valley dapat berlangsung dan sustainable.

Hilangnya salah-satu komponen, bisa dengan serta merta membuat proses Wealth Creation tersebut menjadi terhambat, atau bahkan hilang sama sekali.

Contohnya: Liquidity dapat berkurang secara drastis apabila exit-strategy melalui IPO terhambat karena rontoknya pasar modal Amerika Serikat karena alasan (trigger) apapun. Jika hal ini terjadi, ada kemungkinan besar animo investasi para VC di technology start-ups bisa turun drastis.

Jika diibaratkan perkembangan ekosistim start-up itu memiliki tahapan Merangkak, Berjalan & Berlari, maka boleh dikatakan bahwa ekosistem start-up di Silicon Valley sudah sampai pada tahap Berlari (actually, lebih tepat dikatakan sudah di tahap naik Private Jet, karena partner-partner di VC papan atas Silicon Valley sudah keluyuran naik Gulfstream… Bercanda dikit gak pa pa, ya.. Jangan serius mulu..), dan kita di Indonesia masih pada tahap Merangkak.

Ini tentu saja bukan berarti bahwa ekosistem kita jelek. Sama sekali bukan begitu artinya.

Menurut saya, ini hanya berarti bahwa kita harus sadar bahwa jalan kita masih jauh, perjalanan masih panjang.

Inisiatif-inisiatif yang sudah mulai di-kick start oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan merasa berkepentingan supaya bisa ditingkatkan lagi. Mudah-mudahan wacana untuk mengkordinasi Angel Investor seperti yang pernah dilontarkan pada saat GEPI kemarin bisa segera direalisasikan. Mudah-mudahan kegiatan di Mekar untuk mempertemukan entrepreneur dan investor juga dapat berjalan lancar, efisien dan transparan.

Selain itu, akhir-akhir ini kita sudah mendengar tentang adanya group bisnis yang sudah mulai set-up Venture Capital seperti Djarum Group dengan GDP Ventures, dan juga Group Bakrie dengan Nusantara Incubation, saya menjadi sangat tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut mengenai visi Djarum Group dan Group Bakrie terkait dengan technology start-ups di Indonesia.

Mr. Martin Hartono & Mr. Anindya Bakrie, saya tunggu undangan diskusinya.

Ditulis oleh:

William Henley

My LinkedIn Profile

My Twitter: @WilliamBotak

Silahkan subscribe ke RSS Feeds supaya Anda di-informasikan mengenai makalah-makalah saya yang berikutnya.

  • http://www.smallbusinessplansoftware.net Software for small business

    This article provide many tips. Very useful to me. Thanks a lot ?