eCommerce Indonesia: Bayarnya Pakai Apa, Boss??
Dalam “Salah Kaprah Technology StartUps di Indonesia” yang saya posting dua minggu yang lalu, saya sempat mengemukakan rasa penasaran terhadap tingginya minat tech-entrepreneur Indonesia untuk berkecimpung dalam segment eCommerce. Rasa penasaran saya tersebut pada dasarnya merupakan akibat pengamatan terhadap belum tersedianya Payment Gateway yang dapat memfasilitasi transaksi eCommerce di Indonesia secara seamless & integrated.
Sebenarnya, sebelum sebelum saya memaparkan observasi dan opini saya terhadap topik di atas, saya rasa perlu meng-kualifikasi statement “belum tersedianya Payment Gateway System yang dapat memfasilitasi transaksi eCommerce di Indonesia secara seamless & integrated” menjadi “belum tersedianya Payment Gateway System yang dapat memfasilitasi transaksi eCommerce di Indonesia secara seamless & integrated serta sesuai dengan demografi & struktur pasar di Indonesia”.
Mengapa demografi & struktur pasar begitu penting dalam konteks suksesnya eCommerce di Indonesia?
eCommerce Payment Gateway bisa didefinisikan sebagai sebuah infrastruktur yang berfungsi untuk memfasilitasi terjadinya proses pembayaran transaksi online melalui sebuah proses yang menyeluruh dan mencakup pihak-pihak yang terlibat yaitu Merchant (penjual), Buyer (pembeli), Bank dan juga pihak-pihak yang terkait dengan Bank (misalnya: Credit Card Provider).
Sebelum kita melanjutkan pembahasan, ada baiknya kita mengambil sebuah kesepakatan terlebih dahulu bahwa kita tidak akan membedakan istilah Payment Gateway & Payment Processor. Payment Gateway seharusnya didiskusikan dalam konteks yang lebih technical karena melibatkan hal-hal yang bersifat teknologi & protocol, sedang Payment Processor lebih menitik-beratkan terhadap aspek fungsionalitas dalam memfasilitasi transaksi eCommerce.
PayPal merupakan sebuah contoh eCommerce Payment Processor yang paling sukses & ubiquitous di dunia. Dalam praktek sehari-hari, PayPal menjalankan fungsi sebagai jembatan antara Kartu Kredit (milik pembeli) dengan Bank (di sisi Penjual) sehingga sebuah siklus transaksi eCommerce dapat berhasil dieksekusi dengan baik.
Selain dari PayPal, masih ada banyak layanan sejenis misalnya 2checkout, GlobalCollect, BrainTree & MerchantPlus. Masing-masing memiki fitur & value proposition tersendiri.
PayPal bahkan sudah dapat memfasilitasi transaksi dalam mata-uang Rupiah. Jika diinginkan, sebuah perusahaan di Indonesia sebenarnya sudah dapat memfasilitasi terlaksananya sebuah transaksi jual-beli secara online apabila PayPal digunakan sebagai payment processor untuk pembayaran transaksi oleh pembeli yang menggunakan kartu-kredit.
Hal di atas membuktikan bahwa kendala yang dihadapi oleh eCommerce di Indonesia bukanlah tidak tersedianya eCommerce Payment Gateway/Processor, karena fungsi ini sebenarnya dapat dijalankan oleh PayPal dan juga layanan sejenis lainnya apabila metode pembayarannya adalah dengan menggunakan kartu kredit.
Jika bukan karena tidak tersedianya eCommerce Payment Processor, lantas apa yang menjadi kendala?
Di sinilah kita perlu menyadari bahwa faktor demografi & infrastruktur pasar merupakah aspek yang sangat penting dalam dalam konteks eCommerce di Indonesia.
Menurut saya, beberapa alasan mengapa PayPal dan layanan sejenis belum dapat memfasilitasi eCommerce di Indonesia secara efektif & efisien adalah sebagai berikut:
- Adanya kendala logistik di sisi keuangan, misalnya resiko valas (forex risk) yang muncul pada saat transaksi dilakukan di Indonesia dengan seluruh pihak yang terkait dalam memfasilitasi transaksi. Dalam hal ini, sebuah transaksi di Indonesia melibatkan pihak-pihak sebagai berikut: bank penerbit kartu kredit di Indonesia, provider kartu kredit di Indonesia, PayPal, bank-nya PayPal dan pihak-pihak lain yang keterlibatannya tidak sepenuhnya kita ketahui dan kita mengerti. Setiap lapis dari proses tersebut menimbulkan biaya, sehingga semakin banyaknya pihak yang terlibat, biaya yang ditimbulkan juga menjadi semakin tinggi dan berdampak langsung dan mengakibatkan penurunan efektivitas & efisiensi.
- PayPal sukses sebagai eCommerce Payment Processer karena fungsi yang dijalankan sebagai penengah (middle-man) antara Kartu Kredit milik Pembeli dengan perusahaan eCommerce. Fungsi inilah yang masih belum bisa dijalankan secara optimal, karena jumlah pemegang kartu kredit di Indonesia hanyalah 7 juta orang (sumber: Asosiasi Kartu Kredit Indonesia).
Karena adanya kendala-kendala di-atas, saya rasa dapat disimpulkan bahwa eCommerce akan sulit berkembang di Indonesia apabila metode pembayaran yang diandalkan adalah kartu-kredit karena angka pengguna kartu kredit hanyalah sekitar 2,9% dari total penduduk Indonesia sebanyak 240 juta jiwa. Selain itu, biaya fasilitasi yang terlalu tinggi membuat Payment Processor asing seperti PayPal sulit di-implementasikan untuk eCommerce di Indonesia..
Berdasarkan pengamatan di-atas, saya membuat hipothesis bahwa eCommerce hanya bisa berkembang pesat apabila ada metode pembayaran dengan instrument yang sudah lebih banyak dipakai oleh penduduk Indonesia.
Demografi & Infrastruktur Pasar eCommerce
Pada tahap inilah, kita perlu memahami gambaran kasar tentang sistim perbankan Indonesia. Berdasarkan diskusi saya dengan beberapa pakar perbankan, saya mendapatkan informasi bahwa kurang dari 40% penduduk Indonesia yang telah memiliki akses terhadap sistim perbankan nasional. Jika kita menggunakan angka ini sebagai pegangan, berarti kita harus menggunakan asumsi bahwa eCommerce hanya bisa dinikmati oleh 92 juta dari 240 juta penduduk Indonesia yang memiliki akses kepada layanan perbankan yang paling basic, misalnya buku tabungan.
Sejauh ini, kita sudah melihat bahwa ada beberapa perusahaan Indonesia yang meng-klaim sebagai eCommerce Payment Gateway/Processor di Indonesia. Beberapa nama platform yang dirilis oleh tech-companies di Indonesia antara lain: IndoMOG, InaPay, KasPay & Doku.
Jika dilihat dari penjelasan di-website masing-masing, pengertian saya pribadi terhadap masing-masing layanan tersebut adalah sebagai berikut:
- IndoMOG adalah sebuah mekanisme pembayaran yang ditujukan untuk komunitas gamer guna memfasilitasi transaksi jual beli voucher game secara elektronik.
- InaPay & KasPay menjalankan fungsi sebagai mediator dimana penjual dan pembeli perlu memiliki rekening di InaPay & KasPay dan mereka akan bertindak sebagai escrow/custody/wali-amanat sampai pada tahap sebuah siklus transaksi berhasil dilaksanakan (dalam arti barang yang dibeli sudah sampai ke tangan pembeli) supaya pembayaran atas transaksi dapat dilakukan (di-settle) ke penjual produk.
- Doku adalah sebuah platform yang meng-klaim telah berhasil melakukan integrasi dengan bank yang ada di Indonesia. Website Doku memberikan contoh nama beberapa vendor yang telah menggunakan platform Doku, akan tetapi saya tidak berhasil mendapatkan informasi mengenai proses maupun flow-of-work dari platform tersebut.
Berdasarkan pengamatan singkat atas layanan-layanan di atas yang diposisikan sebagai eCommerce Payment Gateway/Processor di Indonesia, saya masih melihat banyak sekali kelemahan dari layanan-layanan ditawarkan, terutama jika dikaitkan dengan misi untuk memfasilitasi eCommerce sehingga dapat mencapai momentum yang tinggi di Indonesia.
Menurut saya, masalah terbesar dari layanan yang tersedia adalah ketidak mampuan untuk meng-akses 40% populasi Indonesia yang sudah memiliki rekening bank yang paling basic demi memperbesar basis konsumen yang dapat melakukan transaksi eCommerce.
Terus-terang, saya tidak tau perusahaan-perusahaan mana lagi yang akan coba melakukan deployment eCommerce Payment Gateway, ataupun mekanisme yang nantinya akan dipergunakan.
Dari sisi sektor perbankan, sudah terlihat bahwa beberapa bank nasional sedang mencoba untuk menawarkan payment processing capabilities kepada nasabah masing-masing. Lagi-lagi yang menjadi masalah adalah ketidak mampuan dari bank-bank ini untuk menawarkan layanan processing ini kepada nasabah dari bank lain. Artinya, Bank ABC hanya bisa melayani nasabah Bank ABC, tetapi tidak bisa melayani nasabah Bank XYZ. Sebagai akibatnya, sebuah perusahaan eCommerce (anggap saja namanya IndoZone) yang memiliki rekening bank di Bank ABC hanya bisa melayani nasabah Bank ABC saja. Supaya dapat melayani nasabah Bank XYZ, IndoZone harus memiliki akses ke payment platform yang ada di Bank XYZ. Proses ini harus di-ulang untuk setiap bank apabila IndoZone ingin melayani nasabah-nasabah dari semua bank yang ada di Indonesia.
Saya rasa, eCommerce di Indonesia hanya bisa mencapai momentum yang tinggi apabila sudah ada layanana sejenis PayPal yang dapat menjembatani lalu-lintas dana dari seluruh rekening bank yang ada di Indonesia. Bukan hanya untuk rekening kartu-kredit, tetapi juga untuk rekening tabungan biasa.
Saya tidak tahu apakah saat ini sudah ada perusahaan Indonesia yang berupaya untuk menawarkan layanan sejenis PayPal untuk seluruh rekening bank yang ada di Indonesia. Bisa saja ada bank nasional dengan cakupan yang luas sudah berusaha untuk memposisikan diri ke arah layanan tersebut. Bisa juga salah satu dari technology companies yang sudah saya ulas di-atas juga sedang mengarahkan ke sana.
Supaya eCommerce Payment Processing dapat mencakup seluruh rekening yang ada dalam system perbankan kita, maka dibutuhkan sebuah Clearing House supaya lalu-lintas dana tersebut dapat di-catat dan di-bukukan sebagaimana mestinya ke pihak-pihak terkait.
Terkait dengan Clearing House inilah, saya berani mengambil kesimpulan bahwa seluruh perusahaan/platform yang berupaya untuk menjadi eCommerce Payment Gateway/Processor di Indonesia akan GAGAL dalam mencapai objektif masing-masing, kecuali sebuah Clearing House segera dibentuk.
Sejarah Terulang Kembali
Kesimpulan ini saya ambil dengan melihat sejarah industri perbankan pada saat teknologi ATM (Automated Teller Machine) mulai diimplementasikan di Indonesia. Bank Niaga adalah bank Indonesia yang pertama kali menawarkan layangan ATM di tahun 1987. Layanan ATM ini kemudian diikuti oleh hampir semua bank yang kemudian memiliki jarangn ATM masing-masing. Sekarang ini, kita bisa melihat bahwa lalu lintas dana di antara jaringan ATM bank-bank di Indonesia telah berhasil difasilitasi dengan lancar melalui jaringan ATM Bersama.
Jaringan ATM Bersama adalah jaringan Clearing House lalu-lintas dana via ATM yang dimiliki oleh PT. Artajasa Pembayaran Elektronis
Saya yakin, sejak pertama kali ATM diluncurkan di Indonesia, sampai pada saat jaringan ATM Bersama dibentuk, banyak sekali pengusaha / businessman / entrepreneur yang telah tertarik untuk membentuk Clearing House ATM karena potensi fee yang bisa diperoleh dalam proses memfasilitasi lalu-lintas dana ATM bank-bank tersebut. Akan tetapi, akhirnya PT. Artajasa Pembayaran Elektronis-lah yang berhasil memperoleh mandat untuk menyelenggarakan dan mengelola jaringan ATM Bersama.
Mengapa begitu? Jika dilihat dari struktur perusahaan, terlihat bahwa PT. Artajasa Pembayaran Elektronis dimiliki oleh: i. Aplikanusa Lintasarta (55%), ii. Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia (35%), iii. PT. Multivisi Komputama (10%).
Terkait dengan Clearing House untuk eCommerce Payment, saya juga yakin bahwa sejarah akan terulang kembali. Artinya, siapapun boleh berusaha untuk memobilisasi sebuah platform untuk memfasilitasi lalu lintas dana eCommerce. Akan tetapi berhubung karena layanan ini akan menjadi layanan yang amat sangat strategis, maka akhirnya layanan ini hanya akan terbentuk dengan Bank Indonesia ataupun institusi yang terafiliasi dengan Bank Indonesia (misalnya Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia) sebagai pemegang saham / stakeholder.
Terlepas dari alasan maupun feasibility dari investasi di bisnis eCommerce Payment Gateway di Indonesia, saya hanya ingin mengemukakan pandangan saya bahwa eCommerce tidak akan bisa mencapai momentum yang diharapkan tanpa adanya sebuah Clearing House / Payment Gateway yang menurut saya akhirnya hanya akan berwujud dan dibidani oleh Bank Indonesia ataupun institusi yang terafiliasi dengan Bank Indonesia.
Jadi, kalau pertanyaan saat ini berbunyi, “Transaksi eCommerce-nya mau dibayar pakai apa, Boss??”
Saya rasa jawaban paling tepat untuk saat ini adalah: “Maaf beribu maaf, terus terang masih bingung gimana nge-bayar-nya..!!”
Ditulis oleh:
William Henley
My Twitter: @WilliamBotak
Silahkan subscribe ke RSS Feeds supaya Anda di-informasikan mengenai makalah-makalah saya yang berikutnya.
-
http://ideonomics.com Andi S. Boediman
-
Tata Tricipta
-
http://gilablackberry.com/blackberry-gemini harga blackberry gemini
-
http://www.equnix.co.id Julyanto S
-
http://www.BizLosophy.com William Henley
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.facebook.com/fhendri Fransiskus Hendri
-
http://www.bizlosophy.com/2011/12/start-up-mimpi-better-wake-up-soon/ Start Up Mimpi… Better Wake Up Soon… | BizLosophy.com – The Philosophy of Business
-
http://www.bizlosophy.com/2012/01/evolusi-business-model-otopedia-com/ Evolusi Business Model Otopedia.com | BizLosophy.com – The Philosophy of Business
-
http://startuplokal.org/2012/01/27/evolusi-business-model-otopedia-com/ Evolusi Business Model Otopedia.com | #StartupLokal | StartupLokal.org

Recent comments