The Philosophy of Business...In Essence

Bizlosophy Polls

How Is My Site?

View Results

Loading ... Loading ...

Salah Kaprah Technology StartUps di Indonesia

Sunday, September 25, 2011 @ 05:09 PM

Majalah SWA edisi 22 September mengusung tema “Pertaruhan Investor Berebut Startups Jempolan”. Dalam edisi ini, banyak artikel yang mengulas contoh-contoh perusahaan teknologi dan juga investor-investor yang menanamkan modalnya dalam industri ini di Indonesia saat ini. Memang selama hampir setahun terakhir, sudah relatif cukup sering muncul berita yang memberikan kesan bahwa perusahaan teknologi adalah sesuatu yang seksi & relatif glamor.

Kesan seksi & glamor ini merupakan dampak dari hal serupa yang terjadi dengan perusahaan-perusahaan teknologi di luar negri, terutama di Amerika Serikat, akibat meningkatnya harga saham dari perusahaan-perusahaan tersebut. Hal ini mengakibatkan meningkatnya kekayaan para pemegang saham, termasuk juga pendiri perusahaan dan juga eksekutif puncak dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Meningkatnya harga saham yang sangat signifikan terjadi pada perusahaan teknologi yang sudah tidak asing lagi namanya seperti Google dan Apple. Hal ini mengakibatkan Sergei Brin & Larry Page, dua pendiri Google yang masih amat belia, memperoleh status sebagai orang-orang terkaya di dunia. Hal yang sama terjadi juga kepada Steve Jobs sebagai pendiri dan CEO Apple.

Selain dari kedua perusahaan yang sudah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek tersebut, beberapa perusahaan teknologi yang belum mencatatkan sahamnya di Bursa Efek juga mengalami hal yang sama akibat dari meningkatnya valuasi pada saat masuknya investor baru pada tahap fund-raising terakhir. Facebook & Groupon adalah dua contoh paling relevan. Walaupun sampai sekarang belum IPO, valuasi Facebook mencapai US$50 milyar pada saat Goldman Sachs menggalang dana investor di bulan Juli 2011 yang lalu untuk diinvestasikan di Facebook. Valuasi yang amat sangat luar biasa tersebut mejadikan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg sebagai bilioner termuda di dunia. Saat ini Groupon sedang merencanakan IPO dan diperkirakan akan mendapatkan valuasi sebesar US$25 milyar.

Proses “Wealth Creation” akibat meningkatnya valuasi & harga saham perusahaan-perusahaan teknologi di Amerika Serikat juga berimbas ke beberapa negara lain seperti di China & India. Berhubung karena efek bergulir tersebut, tidak sedikit orang yang mengantisipasi bahwa Indonesia sebagai negara dengan populasi 245 juta jiwa akan segera mendapat giliran, sehingga dapat miningkatkan valuasi perusahaan teknologi di Indonesia dan juga para stakeholdersnya, termasuk pemegang saham dan juga eksekutif-eksekutif yang ada di perusahaan-perusahaan tersebut.

Internet Business Model

Jika dilihat dari perusahaan teknologi di Amerika Serikat, business model yang sangat menguntungkan awalnya adalah di sektor (i) Pornografi, (ii) Perjudian & (iii) e-Commerce. Hal ini mengalami perobahan yang cukup signifikan pada saat Google berhasil membuktikan bahwa fungsi “Search” dan turunannya dapat memberikan revenue yang amat sangat tinggi sehingga mengakibatkan harga saham Google meningkat secara signifikan.

Munculnya konsep Web 2.0, dimana peran social media dalam memfasilitasi interaksi antara pengguna internet juga diperkirakan akan dapat memberikan kontribusi pendapatan yang sangat potential. Tentu saja, ekpektasi ini boleh dianggap telah memuncak dengan valuasi yang diasosiasikan dengan Facebook sebagai platform social media terbesar di dunia dengan jumlah user mencapai 750 juta orang.

Dari business model yang ada, mulai dari pornografi, perjudian, e-commerce, search, content sampai ke social media, boleh disimpulkan bahwa pornografi dan perjudian tidak akan bisa menjadi bisnis model yang mewabah dan dapat diterima oleh masyarakat luas karena hambatan-hambatan kultural & sosial di Indonesia. Secara sembunyi-sembunyi dan mungkin secara underground, pornografi dan perjudian mungkin memiliki eksistensi tersendiri, tetapi saya tidak dapat melihat kedua bisnis model ini menjadi mainstream di Indonesia.

“Search” dan social-media adalah bisnis model yang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan berinternet di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa Google dan fungsi searchnya sudah “integrated” dalam kehidupan mainstream di Indonesia. Sudah bukan merupakan rahasia lagi baik di Indonesia maupun secara global bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna terbanyak platform social media seperti Facebook & Twitter.

Terkait dengan platform social media yang sudah eksis seperti Facebook & Twitter, saya yakin bahwa fitur & fungsionalitas dari platform tersebut tidak akan bisa di-imbangi oleh produk / social media platform versi lokal. Oleh karena itu, saya tidak melihat banyak opportunity untuk “wealth creation” dalam skala besar dari platform local di layanan dan produk social media tersebut.

Pola dari semarak StartUp di Indonesia dapat dilihat dari portofolio yang ditampilkan di beberapa komunitas seperti StartUpLokal. Dari sekitar 150 portofolio yang ditampilkan melalui website StartUpLokal, terlihat bahwa business model yang ada dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori:

  1. Clone dari business model yang sudah ada di Amerika Serikat,
  2. Website/forum komunitas,
  3. eCommerce & eService.

Terus terang, dalam konteks perusahaan teknologi yang sedang kita bicarakan, istilah StartUp sudah dipergunakan terlalu bebas. Idealnya, istilah StartUp dipergunakan untuk menyebut perusahaan teknologi yang telah berbentuk badan hukum (incorporated). Tapi melihat portofolio yang ditampilkan tersebut, saya jadi bertanya-tanya apakah sebuah discussion board/forum untuk sebuah profesi tertentu pantas disebut sebagai StartUp? Mungkin akan masuk akal kalau anggota discussion board tersebut sudah mencapai 3 juta orang seperti di KasKus. Akan tetapi tanpa basis komunitas yang besar, saya tidak melihat discussion board dapat menjadi sebuah business model yang dapat bertahan dan sustainable, baik di Indonesia maupuan di negara lain.

eCommerce di Indonesia: Kendala Struktural yang Intrinsik

Salah satu aspek paling menarik dari pengamatan saya terhadap dunia StartUp di Indonesia adalah banyaknya perusahaan yang berkutat di segment eCommerce.

Mengapa menarik? Karena banyaknya kendala yang membutuhkan waktu yang relatif lama untuk dapat dicarikan solusinya. Oleh karena itu, menurut saya, keterlibatan sebuah StartUp di segment eCommerce di Indonesia harus disertai hal-hal di bawah ini:

  1. Modal yang sangat besar,
  2. Ekspektasi period Return on Investment yang relatif jauh lebih lama:
  3. Seleksi produk yang tepat

Mengapa saya bilang banyak sekali kendala?

Dan mengapa saya bilang kendala-kendala tersebut butuh waktu yang lama untuk dicarikan solusinya?

Adapun kendala struktural yang intrinsik di bisnis eCommerce di Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Belum adanya eCommerce Payment System yang dapat memfasilitasi kegiatan eCommerce secara seamless & integrated. Saat ini, jika Anda membeli sesuatu lewat internet, jarang-jarang yang bisa bayar pakai kartu kredit. Lebih sering pembayaran harus ke ATM, transfer ke rekening penjual, balik lagi ke komputer untuk lapor detail transfer. Selagi proses ini belum dibuat menjadi integrated & seamless, eCommerce akan sulit berkembang di Indonesia,
  2. Kendala logistik berupa setting geografis: Dari sejak SD kita sudah belajar bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri lebih dari 16 ribu pulau dari Sabang sampai Marauke. Sampai saat ini, (rasanya) belum ada solusi logistik yang dapat memfasilitasi kegiatan eCommerce dengan lancar dan nyaman. Kalaupun ada, saya rasa konsumen Indonesia masih belum sepenuhnya confident dengan jaminan kualitas layanan ini. Quick survey: Maukah Anda membeli TV LCD 42 inch terbaru lewat internet untuk pengiriman dari Jakarta ke Tebing Tinggi di Sumatera Utara?

Saya bukan mengatakan bahwa kendala-kendala di-atas tidak akan pernah bisa diatasi. Adapun poin yang ingin saya tekankan adalah bahwa kendala-kendala struktural tersebut belom akan ada solusinya dalam waktu dekat, sehingga para investor dan pelaku eCommerce di Indonesia harus kuat modal dan bersedia berpikir long-term untuk bisnis eCommerce mereka masing-masing.

Technology & Wealth Creation di Indonesia

Tadi saya sudah bahas bahwa salah satu penyebab maraknya StartUp di Indonesia disebabkan karena adanya proses Wealth Creation melalui pasar modal di Amerika Serikat.

Apakah hal yang sama telah terjadi di Indonesia?

Rasanya belum. Beberapa perusahaan teknologi yang telah berhasil mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta pada periode DotCom 1.0 dari periode 12 tahun yang lalu, saat ini telah beralih lini bisnis, atau malah sudah tidak eksis lagi.

- IndoExchange.com (INDX) sekarang telah beralih lini bisnis menjadi perusahaan batu-bara,

- Metamedia (META) sekarang telah berubah nama menjadi Nusantara Infrastructure dengan lini bisnis pengelolaan jalan tol,

- Kopitime DotCom (KOPI) sekarang sudah dicabut pencatatan sahamnya oleh otoritas bursa.

Sampai sekarang belum ada StartUp Web 2.0 yang berhasil mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia.

Walaupun belum ada perusahaan teknologi Web 2.0 yang IPO di Bursa Efek Jakarta, selama 1,5 terakhir kita telah mengamati beberapa deal/transaksi yang relatif cukup high-profile berhasil di-eksekusi di Indonesia.

Beberapa deal-deal tersebut antara lain:

  1. Akusisi YAHOO terhadap Koprol.com,
  2. Investasi oleh East Venture di Tokopedia.com,
  3. Investasi oleh East Venture di Urbanesia.com,
  4. Investasi oleh East Venture di AppsFoundy,
  5. Investasi oleh Djarum Group di KasKus,
  6. Akuisisi Para Group terhadap DetikCom,
  7. Akuisisi Groupon terhadap DisDus.com,
  8. Akuisisi LivingSocial terhadap DealKeren.com.

Apakah deal-deal di-atas merupakan pemicu (trigger) dari semarak dan animo terhadap StartUp di Indonesia?

Di sinilah saya merasakan bahwa ada SALAH KAPRAH DOSIS TINGGI yang saat ini berlangsung dalam kancah StartUp di Indonesia.

SALAH KAPRAH?? DOSIS TINGGI??

Deal-deal di-atas merupakan pertanda bahwa ADA INVESTOR YANG BERMINAT terhadap perusahaan teknologi di Indonesia. TITIK.

Minat yang ditunjukkan oleh investor dengan melakukan investasi ataupun mengakuisisi perusahaan-perusahaan teknologi di atas BELUM TENTU meng-indikasikan bahwa telah terjadi proses Wealth Creation seperti yang telah terjadi di Amerika Serikat.

Mengapa deal-deal di atas TIDAK IDENTIK dengan proses Wealth Creation?

Karena, deal-deal yang bersifat high-profile dan banyak dipublikasikan di media tersebut SAMA SEKALI TIDAK DISERTAI dengan NILAI TRANSAKSI & VALUASI yang TRANSPARAN.

  1. Tahukah Anda nilai pembelian Koprol.com oleh YAHOO?
  2. Tahukah Anda nilai investasi East Venture di Tokopedia.com? Untuk berapa persen kepemilikan di Tokopedia.com?
  3. Tahukah Anda nilai investasi East Venture di Urbanesia.com? Untuk berapa persen kepemilikan di Urbanesia.com?
  4. Tahukah Anda nilai investasi East Venture di AppsFoundry.com? Untuk berapa persen kepemilikan di AppsFoundry.com?
  5. Tahukah Anda nilai investasi Djarum Group di KasKus?
  6. Apakah Djarum Group benar-benar melakukan investasi di KasKus?
  7. Tahukah Anda nilai pembelian DetikCom oleh Para Group?
  8. Tahukah Anda nilai pembelian DisDus.com oleh Groupon? Bayarnya pakai apa? Pakai CASH? Atau pakai saham Groupon?
  9. Tahukah Anda nilai pembelian DealKeren.com oleh LivingSocial? Bayarnya pakai apa? Pakai CASH? Atau pakai saham LivingSocial?

Sampai tulisan ini di-upload, saya berani jamin bahwa Anda tidak akan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut secara resmi dan transparan.

Nah, jika sebuah deal / transaksi tidak bisa dinilai berdasar azas-azas penilaian yang bisa diterima dalam kaedah & konteks investasi, kenapa juga kita harus ikut-ikutan heboh?

Kenapa juga kita harus memimpikan “Nanti satu hari StartUp saya akan diakuisisi oleh YAHOO seperti Koprol.com”??

Saya pikir, media kita juga berperan serta dan memiliki kontribusi yang tidak sedikit dalam meng-kompori kehebohan ini. Tidak sedikit artikel-artikel mengenai deal-deal di atas di tulis oleh wartawan yang tidak memiliki pengertian yang memadai mengenai StartUp dan sektor teknologi, dan juga tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai konsep dasar investasi. Walaupun demikian, tetap saja artikel ditulis, kemudian dipublikasikan dan diterbitkan dengan tema & topik yang bombastis demi untuk meningkatkan oplah penjualan majalah.

Gatra Djarum Kaskus

Majalah GATRA edisi Maret 31, 2011 memiliki Cover dengan foto pendiri KasKus Andrew Darwis dengan headline yang berbunyi “DIGUYUR DUIT SATU TRILYUN”. Baris pertama dari artikel berbunyi “Grup Djarum, melalui bendera Global Digital Prima Venture, menanamkan dana segar Rp 1 trilyun lebih ke forum online Kaskus.”

C’mon, man…. Apakah benar ada statement resmi, baik verbal ataupun tertulis yang mengatakan bahwa dana segar sebesar Rp.1 trilyun sudah ditanamkan oleh Grup Djarum di KasKus?

Saya jadi bertanya-tanya apakah penulis artikel tersebut mengerti perbedaan antara “investasi cash sebesar Rp.1 trilyun” dengan “investasi yang men-valuasi KasKus senilai Rp.1 trilyun”. Bedanya tentu saja selangit. Gawatnya adalah kalau perbedaannya tidak diketahui tetapi tetap saja menjadi sebuah artikel yang diterbitkan dalam sebuah majalah nasional, bukankah itu menjadi sebuah mis-representasi yang amat sangat tidak pada tempatnya?

Bukan tujuan saya menulis makalah ini sebagai kritik terhadap StartUp dan teman-teman saya pelaku pelaku perusahaan teknologi di Indonesia. Saya sendiri adalah investment banker dengan pengalaman lebih dari 15 tahun dan banyak berkecimpung dan melakukan investasi di sektor teknologi.  Saya sendiri adalah pemilik portal otomotif Otopedia.com dan pemilik TAPESTRIX, sebuah social media platform yang dapat di-customize.

Adapun tujuan dari makalah saya ini adalah supaya kita dapat melihat industri StartUp di Indonesia dalam konteks yang benar supaya semua pihak yang terkait dapat memetik manfaat yang sebesar-besarnya tanpa adanya miskomunikasi, misrepresentasi dan misunderstanding dan dapat merugikan semua pihak yang terlibat.

Ditulis oleh:

William Henley

My LinkedIn Profile

My Twitter: @WilliamBotak

  • http://dailysocial.net/2011/09/29/startup-indonesia-valuasi-mimpi-dan-valuasi-nyata/ Startup Indonesia : Valuasi Mimpi Dan Valuasi Nyata

    [...] – September 29, 2011Opini Leave a comment /**/ TweetSebuah artikel dari rekan saya William mengenai reality check dunia startup di Indonesia benar-benar menangkap perhatian saya. Artikel itu pada dasarnya [...]

  • http://dailysocial.net/en/2011/10/01/indonesian-startup-valuations-dream-and-reality/ Indonesian Startup Valuations: Dream and Reality

    [...] Mamuaya – October 1, 2011Opinion 0 Comments TweetAn article written by my friend, William, about reality check on Indonesian startups catches my attention. Basically, the article complaints the hype in [...]

  • http://www.nusantaraincubation.com Shinta Dhanuwardoyo

    I couldn’t agree more William. I hope I can do it right to help nurture the Indonesian startups. So you will support me right? ;)

  • http://www.dmv.com/ma/massachusetts/resources/practice-tests MA RMV Practice Test

    This post rocks!

  • http://www.BizLosophy.com William Henley

    @Shinta: You got it….

  • http://www.bizlosophy.com/2011/10/quo-vadis-funding-ecosystem-di-indonesia/ Quo Vadis Funding Ecosystem di Indonesia | BizLosophy.com – The Philosophy of Business

    [...] Salah Kaprah Technology StartUps di Indonesia [...]

  • http://banghen.com/salah-kaprah-technology-startups-di-indonesia/ Salah kaprah startup – Salah Kaprah Technology StartUps di Indonesia | Long Journey to Medina

    [...] very good article about Technology StartUps in Indonesia by William Henley [...]

  • http://sangatpedas.com/dailysocial-tech-startups-logics/ DailySocial’s Advice To Startups: SELL CHEAP! – Sangat Pedas

    [...] world. Sangat Pedas “tidak peduli” style, you can always count on us.It started with a post by William Henly, corporate strategy expert, investment banker, multi sector entrepreneur & Fortune [...]

  • http://www.bizlosophy.com/2011/10/ecommerce-indonesia-bayarnya-pakai-apa-boss/ eCommerce Indonesia: Bayarnya Pakai Apa, Boss?? | BizLosophy.com – The Philosophy of Business

    [...] Salah Kaprah Technology StartUps di Indonesia [...]

  • http://dailysocial.net/en/2011/10/16/making-sense-of-indonesian-internet-scene/ Making Sense of Indonesian Internet Scene

    [...] up the threads on the internet deals and valuations and business models – this post by William Henley covers a number of deals and market analysis but none of them mention the Nexian deal. Say what you will, I thought it was the most interesting [...]

  • http://sitedetail.org Stefan Rinaldi

    Wah, william. Terima kasih ya artikel-nya. Benar-benar membuka perspective saya nih :)

  • http://www.BizLosophy.com William Henley

    thanks @stefan … Aspek mana yg “kena”?

  • http://gilablackberry.com/blackberry-tour harga blackberry tour

    Salam kenal, kalau berkenan mampir ke webku yach… :)

  • http://www.bizlosophy.com/2011/12/start-up-mimpi-better-wake-up-soon/ Start Up Mimpi… Better Wake Up Soon… | BizLosophy.com – The Philosophy of Business

    [...] Salah Kaprah Technology StartUps di Indonesia [...]