Perspektif dan Relativitas: Everything is Relative, Dude….
Tulisan ini merupakan penjabaran dari artikel yang sebelumnya tentang potensi bisnis dan wirausaha di Indonesia. Dalam artikel ini saya akan membahas lebih lanjut tentang skala, persepsi, dan relativitas dalam bisnis.
Pelaku bisnis, terutama para pemula, sering mengalami dilema dalam melihat peluang. Situasi ini biasanya datang pada saat ia dihadapkan pada kondisi dimana ia harus memilih dua buah peluang yang pada dasarnya sama-sama memberikan keuntungan. Bisnis yang satu adalah bisnis dalam skala yang besar dan memiliki nilai psikologis tinggi, sementara yang lainnya dalam skala yang lebih kecil dan bernilai psikologis lebih rendah.
Sebenarnya tidak ada yang mutlak dan absolut dalam berbisnis, semuanya relatif. Tidak ada ukuran mutlak untuk sebuah kesuksesan suatu usaha jika dilihat dari besar atau kecilnya skala bisnis. Seorang pemilik lima gerobak mie ayam, tentulah dikatakan sukses apabila dibandingkan dengan orang yang hanya memiliki dua gerobak. Namun jika ia dibandingkan dengan orang yang memiliki sepuluh gerobak mie ayam, pastilah orang akan menilainya kurang sukses.
Umumnya masyarakat awam memiliki kecenderungan untuk melihat “ke atas” dalam melihat sebuah potensi bisnis, sehingga ia kesempatan untuk masuk ke dalam bisnis itu dengan skala yang lebih kecil. Contohnya, ketika Tuan A memulai bisnis rumah makan padang dengan menyediakan 12 menu makanan untuk melayani karyawan di kecamatan A, yang kebetulan dekat rumahnya. Tuan B, sebagai pemain baru yang memiliki sumber daya pas-pasan, melihat kesuksesan Tuan A akan berpikir bahwa untuk membuat rumah makan padang harus menyediakan 12 menu makanan dan melayani segmen karyawan. Walaupun di tangan Tuan B memiliki cukup modal untuk menyediakan 6 menu makanan dan rumahnya bersebelahan dengan sebuah universitas, ia enggan membuka rumah makan padang di rumahnya.
Persepsi Tuan B akan sebuah rumah makan padang ideal telah memberikan cara pandang (perspektif) hal yang sama (rumah makan padang) dan tertanam di dalam benaknya. Kemudian, perspektif itu membelokan akal sehatnya dan sekaligus mengurungkan niatnya untuk membuka bisnis rumah makan padang. Dalam bahasa psikologis Tuan B telah mengalami “cognitive distortion” dalam menilai peluang bisnis yang ia hadapi. Padahal dengan sumber dayanya ia dapat memasuki bisnis rumah makan padang dengan segmen pasar berbeda dengan Tuan A.
Berbeda bukan berarti tidak berhasil, justru menjadi berbeda bisa jadi strategi jitu untuk keberlangsungan sebuah bisnis. Tidak ada yang mutlak berlaku dalam sebuah bisnis, yang ada hanyalah relativitas dari bisnis itu sendiri.

Recent comments